Duka di Balik Program MBG: Febiola, Siswi Berprestasi di Karo yang Kehilangan 70 Persen Ingatan

Perawati • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 12:05 WIB
Ilustrasi seorang siswi menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat dugaan keracunan MBG. (AI Generated)
Ilustrasi seorang siswi menjalani perawatan medis di rumah sakit akibat dugaan keracunan MBG. (AI Generated)

Tragedi keracunan massal yang bersumber dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, tidak hanya meninggalkan trauma fisik, tetapi juga kisah pilu bagi keluarga Febiola Br Purba. 

Siswi berusia 16 tahun dari SMK Swasta Bersama Berastagi ini menjadi salah satu korban dengan kondisi paling parah. 

Di balik musibah yang menimpanya, Febiola dikenal sebagai sosok pelajar berprestasi yang menjadi tumpuan harapan keluarga sederhananya.

Lahir dari pasangan Icuk Sugiarto Purba dan Elvinus Lusiana Sitanggang yang berprofesi sebagai pekerja kebun, Febiola tumbuh menjadi pribadi yang tekun dan berdedikasi.

Di sekolahnya, ia konsisten mempertahankan prestasi akademik dengan kerap meraih juara pertama di kelas. Tak hanya unggul dalam pelajaran, jiwa kepemimpinannya yang menonjol membuat Febiola dipercaya oleh teman-teman dan para guru untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua OSIS.

Baca Juga: Hebat! Bocah Ponjong usia 9 tahun sabet emas catur dan melaju ke Kejurnas

Namun, masa depan cerah yang tengah dirajutnya mendadak redup seusai menyantap hidangan program MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026. Sempat menunjukkan tanda-tanda membaik setelah penanganan awal, kondisi kesehatan Febiola justru merosot drastis pada 16 Agustus 2026.

Febiola mengalami kejang hebat hingga tidak sadarkan diri. Setelah menjalani pemeriksaan medis lanjutan, tim dokter menyatakan Febiola mengalami amnesia berat dengan kehilangan ingatan hingga 70 persen.

Dampak dari kerusakan saraf tersebut sangat memprihatinkan. Febiola kini kesulitan mengenali realita di sekitarnya, mulai dari wajah kedua orang tuanya, adik kandung, teman-teman sekolah, para guru, hingga barang-barang pribadinya sendiri.

Demi menyelamatkan nyawanya, ia harus berpindah-pindah perawatan di lima rumah sakit berbeda, yakni RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, hingga RS Amanda Karo.

Dokter mengindikasikan bahwa proses pemulihan ingatan dan fisiknya membutuhkan terapi intensif rutin sekurang-kurangnya selama satu tahun penuh.

Kondisi tragis yang menimpa putri seorang tukang kebun ini seketika memicu gelombang simpati sekaligus amarah publik di media sosial.

Banyak warganet menyayangkan lemahnya pengawasan program hingga belum adanya penegakan hukum yang tegas. Di jagat Instagram, akun @ayulakstami menyuarakan kekecewaannya atas lambatnya proses hukum, "Separah ini, tapi ngga ada tersangka sampe sekarang," ujarnya.

Baca Juga: Jumenengan Hangabehi Jadi Sorotan, Polemik Suksesi Keraton Solo Belum Berakhir

Nada keprihatinan senada juga disampaikan oleh akun @triwulandari24 yang mempertanyakan komitmen perlindungan bagi generasi muda, "Katanya mau jadi generasi emas, kenapa dibuat begini?" ungkapnya.

Deretan kritik tajam dari publik serta pengawasan ketat dari Ombudsman Sumatra Utara kini terus mengawal kasus ini. 

Pihak berwenang dan penyelenggara program didesak untuk bertanggung jawab penuh, tak hanya menanggung seluruh biaya pengobatan serta terapi intensif jangka panjang bagi Febiola, tetapi juga mengusut tuntas kelalaian agar kejadian serupa tidak kembali menumbalkan masa depan anak-anak bangsa.

Editor : Bahana.
Febiola Br Purba Keracunan Massal Kabupaten Karo Sumatra Utara Mbg