RADAR PURWOREJO – Hasil uji laboratorium UPTD Labkes Sumatera Utara terkait kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Berastagi mengungkapkan adanya pencemaran tiga jenis bakteri pada sampel makanan yang dibagikan kepada para siswa.
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, ketiga bakteri tersebut ditemukan pada menu yang berbeda.
Bakteri Bacillus cereus terdeteksi pada nasi, Staphylococcus aureus pada olahan ikan dencis bersaus, sedangkan sampel buah melon dinyatakan positif tercemar Escherichia coli (E. coli).
Baca Juga: Terancam 7 Tahun Penjara Kasus Tawuran, Dua Pelajar Boyolali Tak Dikeluarkan dari Sekolah
Ketiga jenis bakteri ini memiliki tingkat bahaya yang bervariasi, namun sama-sama berisiko menimbulkan gangguan sistem pencernaan jika dikonsumsi. Dampak paparan bakteri ini memicu gejala umum seperti mual, muntah, kram perut, hingga diare.
Temuan tersebut sejalan dengan kondisi para siswa yang menjadi korban. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan sesaat setelah menyantap hidangan MBG, mulai dari keluhan pencernaan hingga gejala berat seperti kejang.
Kaitan dengan Kasus Hilang Ingatan Korban
Terkait kondisi salah satu siswa bernama Febiola yang sempat dilaporkan mengalami hilang ingatan, tim medis menegaskan hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa bakteri menyerang organ otak secara langsung.
Baca Juga: Residivis Ditangkap Polresta Magelang karena Curi Kotak Amal, Ketahuan Maling Motor
Gangguan ingatan atau penurunan kesadaran dapat terjadi sebagai komplikasi lanjutan dari kondisi keracunan tingkat berat.
Muntah dan diare yang berlangsung secara terus-menerus memicu dehidrasi parah serta ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh.
Kondisi ini berpotensi menurunkan pasokan dan aliran oksigen menuju otak, sehingga menimbulkan efek linglung, kebingungan, hingga gangguan daya ingat.
Baca Juga: Niat Hemat Pakan Beli Nasi Sisa MBG, Ikan Pembudidaya Malah Mati Massal
Oleh karena itu, gangguan ingatan yang dialami Febiola perlu dipahami sebagai dampak dari komplikasi fisik yang dialami korban, bukan akibat infeksi langsung bakteri ke otak.
Hingga saat ini, penanganan medis dan pemeriksaan lanjutan masih terus dilakukan guna memastikan penyebab pasti dari gangguan ingatan tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva