Badak Putih Utara Disebut punah secara Fungsional, Hanya Tersisa Dua Betina di Dunia

Muhammad Rizal Kurniawan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 16:09 WIB
Badak putih hanya tersisa dua di dunia
Badak putih hanya tersisa dua di dunia
Badak putih utara kini berada di ambang kepunahan setelah populasinya tersisa hanya dua individu di dunia. Keduanya merupakan badak betina bernama Najin dan Fatu yang saat ini dirawat di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.

Berdasarkan keterangan BioRescue Consortium dan Ol Pejeta Conservancy pada April 2026, kondisi tersebut membuat badak putih utara disebut telah mengalami kepunahan secara fungsional. Istilah ini tidak berarti spesies tersebut sudah benar-benar hilang, tetapi menunjukkan bahwa populasinya tidak lagi mampu berkembang biak secara alami.

Pejantan terakhir badak putih utara, Sudan, mati pada Maret 2018. Setelah kematiannya, Najin dan Fatu menjadi dua individu terakhir yang diketahui masih hidup. Namun, keduanya tidak dapat mengandung akibat kondisi kesehatan masing-masing.

Badak putih utara sebelumnya tersebar di sejumlah wilayah Afrika Tengah dan Timur. Penurunan populasinya terjadi akibat berbagai ancaman, termasuk perburuan dan hilangnya habitat, hingga akhirnya membuat spesies tersebut berada dalam kondisi kritis.

Baca Juga: AHM Bawa Pendidikan Vokasi Berstandar Industri ke Ujung Timur Indonesia

Ancaman serupa juga masih dihadapi spesies badak lainnya. Dari lima spesies badak yang masih bertahan di dunia, badak hitam, badak Jawa, dan badak Sumatra termasuk dalam kategori sangat terancam punah.

Badak Jawa dan badak Sumatra menjadi perhatian khusus bagi Indonesia karena keduanya masih bertahan di sejumlah kawasan konservasi. Populasinya menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perburuan, penyusutan dan fragmentasi habitat, hingga rendahnya tingkat reproduksi.

Berbagai upaya teknologi reproduksi pun dilakukan untuk mencegah badak putih utara benar-benar punah. BioRescue telah mengembangkan puluhan embrio badak putih utara yang nantinya diupayakan untuk ditanamkan pada badak putih selatan sebagai induk pengganti.

Hingga kini, BioRescue telah menghasilkan 39 embrio murni badak putih utara. Program tersebut menjadi salah satu harapan untuk mempertahankan garis keturunan spesies yang secara alami sudah tidak mampu berkembang biak.

Upaya konservasi juga dilakukan terhadap badak Sumatra di Indonesia. Teknologi reproduksi berbantu, termasuk program bayi tabung, mulai dikembangkan sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan peluang kelahiran dan mempertahankan populasi.

Sementara itu, keberadaan Najin dan Fatu di Kenya masih menjadi simbol penting dalam upaya penyelamatan badak putih utara. Masyarakat dapat turut mendukung perawatan kedua badak tersebut melalui program adopsi simbolis yang disediakan Ol Pejeta Conservancy.

Kondisi badak putih utara menjadi gambaran bahwa kepunahan tidak selalu terjadi ketika individu terakhir mati. Ketika sebuah spesies sudah tidak mampu bereproduksi secara alami, upaya konservasi dan teknologi reproduksi menjadi salah satu harapan terakhir untuk mempertahankan keberadaannya.

Editor : Bahana.
badak putih badak satwa