Bakal Jadi Negara Kedua di Dunia, Indonesia Matangkan Rencana Pengoperasian PLTN Apung

Heru Pratomo • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:07 WIB
Pakar Nuklir UGM Tinjau PLTN Apung di Rusia:
Pakar Nuklir UGM Tinjau PLTN Apung di Rusia:

 

Indonesia akan menjadi negera kedua di dunia yang memiliki PLTN apung. Ahli nuklir Indonesia Yudi Utomo Imardjoko sudah melihat langsung PLTN terapung di atas kapal di Rusia. Diklaim aman dan tak merusak lingkungan. Tapi harus segera direalisasikan. Kenapa?

Yudi baru beberapa hari pulang dari Rusia saat berbincang dengan Radar Jogja di UC UGM, Selasa (15/9). Dia sengaja mengundang wartawan untuk membagikan pengalamannya alam pembangunan dan pengoperasian Floating Nuclear Power Plant (FNPP) serta teknologi Floating Power Unit (FPU) yang berada di Akademik Lomonosov di kota paling utara Rusia Pevek. Serta galangan kapal tempat memproduksi FNPU di St Petersburg.

Yudi bersama tiga orang dari Indonesia lainnya melihat langsung sejumlah fasilitas yang telah beroperasi maupun sedang dibangun. Termasuk Akademik Lomonosov di Pevek, Chukotka, serta Floating Power Unit (FPU) 106 yang sedang dibangun di galangan kapal Rusia dan menggunakan unit reaktor dari keluarga RITM.

Baca Juga: Menelusuri Makna “Ingsun” Sujiwo Tejo, Tentang Aku di Balik Topeng Kehidupan

“Bagi Indonesia, FPU merupakan salah satu solusi yang menarik untuk memasok listrik ke wilayah pesisir terpencil, pulau-pulau, serta fasilitas industri dan pertambangan berskala besar, terutama di lokasi yang pembangunan jaringan listriknya secara teknis kompleks atau secara ekonomi kurang layak," kata dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada itu.

Pemilihan Rusia karena Negara Eropa Timur itu  memiliki pengalaman operasional paling maju dalam pemanfaatan pembangkit nuklir terapung. Sejak 2020, Akademik Lomonosov telah memasok listrik dan panas bagi kota Pevek dan wilayah sekitarnya di Chukotka.

​Fasilitas tersebut merupakan FNPP  yang menggunakan satu unit FPU dengan dua reaktor KLT-40S. Masing-masing reaktor memiliki kapasitas listrik 35 MW. “Sehingga total kapasitas listrik terpasang mencapai 70 MW, sementara fasilitas tersebut juga mampu memasok panas hingga 50 Gcal/jam,” ungkapnya.

Baca Juga: Duduk Berdampingan, Foto Ahmad Luthfi dan Sherly Tjoanda Bikin Netizen Heboh: Awas Cinlok!

​Sejak mulai beroperasi, Akademik Lomonosov telah menghasilkan lebih dari 1,38 miliar kWh listrik, sekaligus menjadi bagian dari infrastruktur energi untuk mendukung aktivitas ekonomi di kawasan Arktik Rusia. Pengalaman tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam pengembangan generasi baru FPU yang menggunakan teknologi reaktor RITM.

Pemilihan PLTN apung, kata Yudi, karena pembangkit ditempatkan pada fasilitas terapung yang dapat dioperasikan di kawasan pesisir. Dengan infrastruktur pendukung yang sesuai, sehingga memungkinkan penyediaan energi secara langsung ke wilayah yang membutuhkan tanpa ketergantungan sepenuhnya pada pembangunan jaringan transmisi jarak jauh.

“Konsep tersebut sangat relevan untuk Indonesia, khususnya dalam mendukung kebutuhan listrik kawasan industri, pertambangan, pulau-pulau, kota pesisir, maupun wilayah dengan kebutuhan energi besar yang menghadapi keterbatasan infrastruktur ketenagalistrikan,” paparnya.

Baca Juga: Gelombang Penolakan MBG Terus Terjadi, Wali Murid SDN Sumberagung Bantul Juga Tolak Imbas Keracunan

Selain itu  FPU menawarkan karakteristik pembangkit nuklir yang mampu menyediakan listrik secara stabil dalam jangka panjang, dengan faktor kapasitas yang tinggi dan tidak bergantung pada kondisi cuaca. Karakteristik tersebut menjadikan FPU sebagai salah satu solusi yang dapat mendukung kebutuhan energi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurut Yudi, kunjungan ke Rusia berlangsung ketika proses kerja sama FPU Indonesia–Rusia telah memasuki tahap yang semakin konkret dan strategis. Saat ini ​Non-Disclosure Agreement (NDA) perlu ditandatangani oleh BAPETEN. NDA diperlukan untuk memungkinkan pertukaran informasi teknis dan informasi lain yang bersifat rahasia secara lebih mendalam. Termasuk informasi mengenai teknologi, keselamatan, desain, parameter sistem, serta aspek keekonomian.

Baca Juga: Kejari Sleman Terima Pelimpahan Reno Candra Sangaji, Sidang Kasus TKD Gandok Segera Digelar

Juga Intergovernmental Agreement (IGA). Yaitu erjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia sebagai landasan kerja sama antarpemerintah. Untuk kerja sama yang memiliki arti strategis bagi pengembangan energi nuklir Indonesia, IGA tersebut diharapkan memperoleh dukungan dan komitmen pada tingkat tertinggi kedua negara, termasuk kemungkinan penandatanganannya dalam kerangka kesepakatan antarkepala negara.

​Langkah tersebut memiliki konteks yang kuat. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah menyampaikan komitmen Rusia untuk mendukung Indonesia dalam pengembangan energi nuklir. Dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto, Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk memberikan dukungan dan keahlian dalam pengembangan energi nuklir Indonesia.

 

 

Editor : Heru Pratomo
nuklir yudi utomo imardjoko rusia pltn UGM