Aktivitas sejumlah kucing berkostum di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, menjadi perhatian publik setelah video dan pengalaman pengunjung beredar di media sosial. Kondisi kucing yang terlihat pasif di tengah keramaian memunculkan pertanyaan mengenai kesejahteraan hewan tersebut.
Dalam sejumlah video yang beredar, beberapa kucing tampak mengenakan kostum dan berada di kawasan pedestrian. Sebagian terlihat lebih banyak diam atau beristirahat meski kondisi sekitar cukup ramai. Di lokasi yang sama, pengunjung juga terlihat memberikan donasi.
Perhatian publik terhadap kondisi kucing tersebut bermula dari pengalaman seorang pengunjung pada 8 Mei 2026 malam. Pengunjung itu mengaku melihat lima kucing dewasa dan seekor anak kucing berada di kawasan Tunjungan.
Menurut kesaksiannya, sejumlah kucing terlihat kurang aktif. Bahkan, beberapa di antaranya kembali tidur meski suasana sekitar dipenuhi aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan spekulasi di media sosial. Sebagian warganet menduga kucing sengaja dibuat tenang dengan menggunakan obat tertentu agar lebih mudah dibawa dan dipertahankan berada di tengah keramaian.
Baca Juga: Polri Bangun 18 Rumah Dinas Brimob di Gunungkidul, Ditarget Selesai Desember
Namun, dugaan tersebut hingga kini belum terbukti.
Pemilik kucing, Bimo, membantah memberikan obat tidur maupun obat penenang kepada hewan peliharaannya. Ia menjelaskan, kucing-kucing tersebut memang dibawa ke ruang publik dan aktivitas tersebut juga berkaitan dengan penggalangan donasi.
Menurut Bimo, uang yang diberikan pengunjung digunakan untuk memenuhi kebutuhan kucing. Mulai dari membeli makanan, vitamin, pemeriksaan kesehatan hingga biaya perawatan dokter hewan.
Terlepas dari dugaan penggunaan obat yang belum terbukti, aktivitas membawa hewan ke ruang publik tetap perlu memperhatikan kondisi dan kebutuhan dasarnya.
Pemerhati kesejahteraan hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga mengingatkan pentingnya memastikan hewan tidak mengalami tekanan akibat lingkungan yang terlalu ramai, penggunaan kostum, maupun durasi aktivitas yang berlangsung.
Apabila muncul dugaan kucing mengalami gangguan kesehatan atau terpapar zat tertentu, pemeriksaan langsung oleh dokter hewan diperlukan. Dengan begitu, kondisi hewan dapat dinilai berdasarkan pemeriksaan medis, bukan semata-mata dari tampilan dalam video.
Hal tersebut juga penting agar dugaan eksploitasi maupun penggunaan obat terhadap hewan tidak disimpulkan tanpa adanya bukti yang dapat diverifikasi.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta seluruh aktivitas di kawasan pedestrian Jalan Tunjungan mengikuti aturan yang berlaku.
Pemkot Surabaya juga menegaskan pengawasan di kawasan tersebut akan diperkuat. Langkah itu dilakukan untuk memastikan fungsi pedestrian tetap berjalan sebagaimana mestinya dan aktivitas lain yang tidak sesuai ketentuan tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.
Baca Juga: Hadiri Pertemuan Group of Eight , Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Mendukung Palestina
Sorotan terhadap kucing berkostum tersebut akhirnya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas donasi, tetapi juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai batas antara aktivitas hiburan, penggunaan ruang publik, dan kesejahteraan hewan.
Hingga kini, belum ada bukti yang memastikan kucing-kucing tersebut diberi obat penenang. Karena itu, pemeriksaan medis dan informasi dari pihak berwenang tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Editor : Bahana.