Dunia Hadapi ‘Super El Niño’ Terkuat dalam Catatan Sejarah, Indonesia Waspadai Kemarau Panjang

Rayhan Nafi Ulwan • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:55 WIB
Ilustrasi tahan tandus dampak musim kemarau panjang. (AI Generated)
Ilustrasi tahan tandus dampak musim kemarau panjang. (AI Generated)

 

RADAR JOGJA - Anomali iklim ekstrem tengah melanda planet Bumi seiring melonjaknya intensitas fenomena El Niño ke taraf yang sangat kuat (Super El Niño). 

Kajian meteorologi dan analisis iklim global menunjukkan bahwa laju pemanasan di perairan Samudra Pasifik tahun ini melampaui tolok ukur historis, bahkan diproyeksikan sebagai salah satu lonjakan suhu paling intens yang terekam dalam kurun seribu tahun terakhir.

Peningkatan drastis panas laut ini, yang berkelindan dengan krisis iklim global, diperkirakan akan mendorong rekor suhu bumi kian membara hingga tahun mendatang.

Kondisi tersebut membawa konsekuensi serius bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Kucing Berkostum di Tunjungan Disorot, Muncul Dugaan Eksploitasi Hewan

Di wilayah Tanah Air, dampak cuaca kering kian diperparah oleh dinamika atmosfer di Samudra Hindia, di mana indeks Indian Ocean Dipole (IOD) mengarah ke fase positif.

Perpaduan kedua fenomena ini menyerap kelembapan dan menekan pembentukan awan hujan di sebagian besar kawasan kepulauan Nusantara, sehingga memicu rentetan hari tanpa hujan yang berkepanjangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa lebih dari 60 persen wilayah Zona Musim di Indonesia akan menghadapi keterlambatan kedatangan musim penghujan periode 2026/2027 dibandingkan rata-rata normalnya.

Sebagian besar kawasan baru diperkirakan memasuki masa transisi menuju musim basah pada rentang November hingga Desember.

Baca Juga: Polri Bangun 18 Rumah Dinas Brimob di Gunungkidul, Ditarget Selesai Desember

Selain terlambat datang, durasi musim penghujan tahun ini diprediksi berjarak lebih pendek, meskipun intensitas puncaknya diproyeksikan tetap berlangsung antara Desember hingga Februari.

Ancaman ini tidak hanya berhenti pada berkurangnya pasokan air bersih dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di ranah internasional, gangguan pola cuaca dan defisit presipitasi mengancam sektor pertanian skala luas, berisiko mengganggu siklus panen pangan utama, serta membayangi ketahanan pangan puluhan juta penduduk dunia akibat kegagalan panen.

Baca Juga: Hadiri Pertemuan Group of Eight , Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Mendukung Palestina

Merespons potensi dampak yang meluas, otoritas meteorologi mengimbau instansi pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat langkah mitigasi adaptif.

Sektor pertanian disarankan segera menyesuaikan kalender tanam serta beralih ke komoditas tahan kekeringan.

Di saat yang sama, penghematan cadangan air waduk dan embung, pemantauan kualitas udara, serta pengawasan titik rawan api dinilai krusial guna menekan dampak sosioekonomi sebelum musim hujan merata.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Super El Niño Catatan Sejarah Waspadai Kemarau Panjang analisis iklim global indonesia