RADAR PURWOREJO - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis analisis awal terkait perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau (GAK) pascaerupsi terus-menerus yang terjadi pada 4–6 September 2026.
Berdasarkan evaluasi citra satelit Sentinel, terjadi perluasan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau serta kemunculan dua gumuk pulau baru di sekitarnya.
Aktivitas erupsi terus memicu pengendapan material piroklastik dan aliran lava di sektor barat laut, barat, hingga barat daya.
Badan Geologi mencatat adanya penambahan daratan baru seluas 32,8 hektare.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Lapas Sukamiskin: ICW Ingatkan Pola Lama Jual Beli Fasilitas Lapas
Selanjutnya, citra satelit mendeteksi adanya gumuk pulau kecil di sisi barat laut dan tenggara GAK.
Kemunculannya diduga kuat berkaitan dengan erupsi terus-menerus yang berlangsung selama sekitar 25 jam.
Interpretasi sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan magma encer keluar melalui jalur bukaan memanjang dari barat laut ke tenggara, sehingga menumpuk material erupsi dan membentuk dua daratan baru menyerupai pulau.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menegaskan bahwa indikasi penampakan dua pulau baru ini masih bersifat dugaan sementara.
Pihaknya akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi, serta melakukan verifikasi langsung di lapangan.
Baca Juga: Edan! Ibu di Solo Tega Jual Bayinya Seharga Rp 6 Juta, Mengaku Tak Sanggup Merawat
Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu yang belum terverifikasi.
Saat ini tingkat aktivitas GAK berada pada Level II (Waspada) dengan himbauan untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Selain itu, masyarakat dilarang mendekat dalam radius 1 km dari lokasi dua gumuk pulau baru di sekitar GAK demi keselamatan.
Editor : Meitika Candra Lantiva