Gen Alpha Bicara Masa Depan: Aang dan Kafa Soroti Persoalan Indonesia

Perawati • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 11:05 WIB
Indonesia emas 2045 di mata gen alpha (foto: tangkapan layar YouTube)
Indonesia emas 2045 di mata gen alpha (foto: tangkapan layar YouTube)

Impian menuju Indonesia Emas 2045 tidak lantas diterima secara mentah-mentah oleh Generasi Alpha. Dalam tayangan Podcast Reset Indonesia episode 6, dua anak berusia 10 tahun, Sayyid Romidzauq (Aang) dan Kafa Billahi Syahidah, secara lugas menyuarakan keraguan sekaligus harapan besar mereka terhadap masa depan bangsa.

Berawal dari kegemaran membaca dan mengulas buku #ResetIndonesia, kedua bocah ini tergerak untuk mencermati berbagai persoalan mendasar di tanah air.

Salah satu hal yang paling menjadi perhatian Aang adalah kondisi sistem pendidikan nasional saat ini. Ia menilai banyak anak terpaksa diseragamkan tanpa memperhatikan perbedaan minat serta bakat bawaan.

"Ada anak yang suka melukis disatuin sama anak yang suka matematika. Padahal hobi dan kesukaannya beda-beda. Seharusnya pendidikan mereka itu merdeka sesuai dengan diri sendiri, mau jalannya ke mana, cita-citanya apa. Kalau disamakan semua, akhirnya pas gede bingung mau ngapain dan pengen jadi apa," ujar Aang.

Baca Juga: DPR Sahkan RUU Satu Data Indonesia Menjadi Undang-Undang

Aang juga menyoroti pemahaman keliru sebagian orang tua di lingkungan tempat tinggalnya mengenai makna sekolah.

"Banyak yang mengartikan sekolah yang penting dapet ijazah, nanti kalau udah besar udah bisa kerja. Bukan meniatkan untuk belajar, padahal yang penting itu bukan sekolah, tapi belajar," kata Aang.

Selain bidang pendidikan, isu lingkungan menjadi perhatian utama Kafa. Ketika ditanya mengenai persoalan berat yang mengganggu pikirannya, Kafa menunjuk pada bencana kebakaran hutan di Kalimantan akibat keserakahan manusia yang menganggap sumber daya alam tidak terbatas.

"Dalam hutan itu bukan cuma pohon-pohon doang, ada binatang, terus pohon di hutan dengan pohon sawit itu berbeda," ujar Kafa.

"Apapun yang ada di darat itu bisa kembalik ke lait, nanti dari laut balik ke kita lagi," tambahnya guna mengingatkan pentingnya konsep keberlanjutan.

Aang turut menyampaikan keprihatinannya melihat kerusakan alam yang terus berulang, padahal daerah terdampak bencana sebelumnya belum sepenuhnya pulih.

Menyadari suaranya belum tentu menembus tingkat pemerintahan, Aang memilih untuk aktif menyampaikan kegelisahannya kepada orang tua di sekitarnya.

Keberanian Aang bahkan membawanya menyaksikan langsung aksi demonstrasi di Ciamis dari dekat. Meski dilarang oleh sang ayah untuk bergabung dalam barisan, Aang yang menyaksikan dari jarak dekat justru diminta menyampaikan orasi oleh Ketua HMI setempat.

Dengan jujur Aang mengaku bahwa ia menyuarakan protes terkait kenaikan harga BBM hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pentingnya Kesadaran Politik Sejak Dini

Baca Juga: DPR Sahkan RUU Satu Data Indonesia Menjadi Undang-Undang

Tidak berhenti pada isu lingkungan dan pendidikan, Aang dan Kafa menilai pemahaman politik sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari guna menentukan arah perjalanan bangsa.

"Politik itu bagi anak seusia 10 tahun, kaya saya bagi anak Gen Alpha itu sangat penting sekali. Urusan politik itu harus bisa sejak dari kecil tuh belajar dari orang politik, malahan kalau bisa sehari-hari belajar dengan orang politik," kata Aang.

Kafa pun menyetujui besarnya dampak dari arah kebijakan politik terhadap masa depan masyarakat.

"Kalau politik jatuh ke tangan orang yang betul maka negara ini bakal baik, sejahtera. Tapi kalau politik jatuh ke tangan yang salah maka negara ini bisa hancur berantakan," ucap Kafa.

Imajinasi Indonesia Baru dan Kekhawatiran Wacana 2045

Saat diminta menggambarkan imajinasi dan harapan mereka mengenai Indonesia Baru, Aang tidak menampik adanya kekhawatiran bahwa wacana Indonesia Emas 2045 hanya akan berakhir sebagai slogan, sekadar bahan perbincangan, atau wacana tanpa realisasi nyata.

Ia berharap Indonesia pada tahun 2045 kelak benar-benar mencapai kemerdekaan yang hakiki, di mana kemerdekaan tidak sekadar dirayakan melalui nyanyian seremonial tahunan.

Di sisi lain, Kafa mengingatkan agar ambisi menjadi negara maju tidak membuat publik mengabaikan aspek kelestarian lingkungan dan kondisi sosial.

Baca Juga: BPK Serahkan IHPS I Tahun 2026 kepada DPR, Soroti Isu Strategis Pengelolaan Keuangan Negara

"Kita terlalu fokus mengejar Indonesia yang emas, Indonesia maju, jadi kita lupa Indonesia yang kita tinggalin," ungkap Kafa.

Bagi Kafa, Indonesia Baru yang ideal adalah negara yang berkembang pesat sekaligus mampu menjaga kelestarian lingkungan, satwa, serta kesejahteraan masyarakatnya.

Guna mewujudkan perubahan tersebut, Kafa mengajak sesama Generasi Alpha untuk membangun kepedulian dan bersatu dalam menyuarakan aspirasi mereka.

"Aku sadar kalau misalnya aku doang yang speak up nanti nggak bakal sampai ke pemerintah. Tapi kalau misalnya semua Gen Alpha ngerti terus mereka peduli, mungkin suara kita bakal lebih besar," kata Kafa.

Editor : Bahana.
gen alpha Indonesia Emas 2045