Waktu itu muncul beberapa sekolah untuk pribumi dengan berbagai jenjang. Ada Sekolah Rakyat (SR) atau dulu bernama Volkschool. Tumbuh di pelosok-pelosok desa.
Ada pula sekolah jenjang lanjutan Di antaranya, Hoogere Kweekschool (HKS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), hingga Algemeene Middelbare School (AMS).
Selain itu, ada Hollandsch Inlandsche School (HIS), yang dulu merupakan sekolah terbatas untuk orang-orang pribumi dari golongan ningrat. Sekolah ini untuk memenuhi keterbatasan tenaga pengajar yang kompeten saat itu. Meski, sebelumnya sudah ada Kweekschool sebagai sekolah guru.
Namun, mutu guru lulusan Kweekschool dinilai kurang untuk mengajar di HIS. Pemerintah kolonial akhirnya mendirikan HKS, sekolah pendidikan guru.
Berdasarkan rekam sejarah, HKS mulai dibangun di Jawa pada 1914. Didirikan di dua tempat yakni di Bandung, Jawa Barat, dan Purworejo, Jawa Tengah.
"HKS Poerworedjo dulu digunakan untuk mendidik pribumi menjadi guru," kata Lengkong Sanggar Ginaris, 25, sejarawan dan arkeolog, kemarin (18/12).
Lelaki yang tinggal di Jalan Tentara Pelajar 113 Purworejo ini pernah melakukan riset dan merekam jejak bangunan eks HKS Poerworedjo. Bahkan, mendokumentasikan dalam bentuk foto-foto secara detail.
Saat ini gedung sekolah eks HKS terbilang masih utuh. Gedung utama, dapur, asrama, rumah guru, hingga taman tampak terawat. "Kompleks eks HKS sekarang digunakan SMA Negeri 7 Purworejo," ucapnya.
Dahulu, pembangunan kompleks HKS Poerworedjo menelan dana sekitar 40.000 gulden. Dibangun pada 1915 dan dibuka pada 1916. Peresmian dihadiri Direktur Onderwijzers en Eredienst Dr J. Hazeu.
Meski demikian, sebenarnya HKS Poerworedjo sudah dibuka sejak Oktober 1914. "Kompleks HKS Poerworedjo cukup lengkap. Ada asrama bagi siswa. Mereka diawasi secara ketat laiknya sekolah kedinasan pada zaman sekarang," kata alumni Pascasarjana Arkeologi UGM Jogjakarta ini.
Siswa HKS Poerworedjo berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Tinggal di asrama, mereka mendapat fasilitas makanan dan layanan kesehatan. Bahkan, mereka mendapatkan tunjangan setiap bulan.
Eksistensi HKS Poerworedjo diamini Dosen Fakultas Hukum Universitas Groningen Belanda Meneer Rob Noorda. Dia datang melawat ke bangunan HKS Poerworedjo belum lama ini.
Dia datang bersama istrinya, Mevrouw Tanja Nobel, untuk kunjungan nostalgia. Mereka mencoba napak tilas leluhur yang dulu pernah menjabat sebagai kepala HKS Poerworedjo pada 1914-1932. (tom/amd/er) Editor : Administrator