Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kementan Minta Penyuluh Kawal Produktivitas Padi dan Jagung

Naila Nihayah • Selasa, 20 Februari 2024 | 16:30 WIB
Ketua Badan BPPSDMP, Kementan Dedi Nursyamsi
Ketua Badan BPPSDMP, Kementan Dedi Nursyamsi
 
 
 
RADAR PURWOREJO - Kementerian Pertanian (Kementan) meminta penyuluh pertanian untuk mengawal produktivitas padi dan jagung. Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) pun telah merancang strategi inovatif guna memastikan peran penyuluh dalam mengawal proses tersebut.
 
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, program pembangunan pertanian perlu digenjot agar produktivitasnya semakin meningkat. Dengan begitu, para penyuluh dapat menyediakan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan petani.
 
 
Kemudian, menggairahkan ekspor melalui peningkatan nilai tambah. Harapannya, pada musim tanam pertama akan sukses meningkatkan produktivitas dan produksi padi. Namun, untuk mencapai hal tersebut, dukungan serta partisipasi aktif dari petani dan penyuluh menjadi kunci utama. 
 
Kepala BPPSDMP, Kementan Dedi Nursyamsi menekankan pentingnya target produksi yang jelas dan penanganan permasalahan yang mungkin terjadi. Seperti kekeringan dan banjir. "Pastikan petani mendapatkan benih dan bibit tepat waktu serta berkualitas. Termasuk sarana dan prasarana produksi yang baik, seperti pupuk," ujarnya saat konferensi pers, Senin (19/2).
 
 
Dia mengutarakan, rata-rata yang dikeluhkan petani saat ini adalah soal pupuk. Mulai dari ketersediaan hingga harganya yang melambung tinggi. Namun, dia memastikan ketersediaan pupuk nasional sekitar 1,8 juta ton itu bisa mencukupi kebutuhan petani. Apalagi ada peningkatan alokasi pupuk subsidi Rp 14 triliun. 
 
Selain itu, dia tidak menampik, harga beras di pasaran saat ini masih melambung tinggi. Bagi para petani, kenaikan tersebut menjadi kabar yang menggembirakan. Hanya saja, produksi beras nasional memang berkurang. Karena panen raya diperkirakan terjadi pada April atau Mei.
 
 
Peningkatan harga beras ini, kata dia, sangat berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat untuk membeli beras. "Indikasi ini menunjukkan bahwa produksi beras nasional kita memang ada penurunan dibandingkan tahun-tahun lalu," bebernya. 
 
Sejak awal 2023 hingga saat ini, lanjut dia, BMKG juga sudah menyampaikan terkait fenomena El Nino yang berkepanjangan. Sementara sumber irigasi pertanian, terutama air hujan praktis berkurang. Sehingga produksi padi turut terkena imbasnya. 
 
 
Dengan begitu, petani harus mengimplementasikan inovasi pertanian. Seperti penggunaan bibit unggul dan teknik bertanam yang efektif serta memberikan nutrisi yang cukup. "Kita harus genjot produksi beras dan jagung nasional. Di saat yang sama, jagung juga sebagai sumber pakan ternak," paparnya.
 
Dedi menegaskan, peningkatan produksi beras dan jagung adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu, para petani maupun penyuluh dan stakeholder pertanian harus bahu-membahu memperkuat sinergi demi menggenjot produksi beras dan jagung nasional. 
 
Penyuluh sebagai ujung tombak, kata dia, harus menyampaikan pesan tersebut kepada petani agar mengikuti Training of Trainers (TOT) pada 20-22 Februari 2024. Kehadiran penyuluh harus konsisten dalam berbagai situasi. Paling tidak dapat mendampingi petani untuk mencapai target produksi yang diinginkan. Dengan begitu, peningkatan produktivitas ini dapat menurunkan angka impor. (aya)
 
 
 
Editor : Heru Pratomo
#kementerian pertanian #menteri pertanian amran sulaiman #Padi dan Jagung #kementan #BPPSDMP