BANTUL - Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah menggelar acara pelepasan 210 siswa kelas 6 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Sabtu (24/5). Dalam kesempatan itu Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy mengingatkan sejarah didirikannya Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah.
Menurut Muhadjir, sebelum didirikan pada 1918 lalu pendiri Muhammadiyah KHA Dahlan mencari benchmark sekolah. Salah satu rujukannya adalah Sekolah Pamong Praja STOVIA Magelang. KHA Dahlan mendaftar di sekolah Belanda itu sebagai guru agama Islam.
“Argumennya calon pejabat harus dapat bekal agama yang cukup karena nantinya akan berinteraksi dengan umat Islam,” tuturnya saat memberikan sambutan dalam pelepasan siswa kelas 6 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah.
Hingga akhirnya diterima menjadi guru agama. Meski dipersyaratkan oleh Belanda, hanya menjadi pelajaran ekstrakulikuler. Tapi Kyai Dahlan, kata Muhadjir, tak mempersoalkan karena memiliki niat lain di baliknya.
“Yaitu belajar tentang pengelolaan sekolah,” katanya.
Tak hanya itu, KHA Dahlan juga mendaftar ke sekolah zending dan misionaris yang dikelola oleh warga Kristen. Di sana juga mendaftar sebagai guru agama Islam dengan alasan banyak siswanya yang beragama Islam.
“Sama niatnya memang belajar pengelolaan sekolah sebelum mendirikan sekolah Muhammadiyah sendiri,” ungkapnya.
Yang bisa dipelajari dari sikap KHA Dahlan, lanjut Muahdjir, adalah Muhammadiyah dengan berbagai unit usahanya termasuk sekolah dimulai dengan open minded atau pikiran terbuka.
“Hal itu yang harusnya diteruskan oleh warga Muhammadiyah,” pesannya.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani yang turut hadir pun juga memiliki saran yang sama. Dia memulai sambutan dengan pertanyaan, apakah ilmu yang diberikan guru dan ustad selama di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah sudah cukup untuk bekal hidup ke depan? “Jawabannya belum cukup”.
Guru dan ustad, kata dia, selama belajar di masa SMP dan SMA di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah baru memberikan dasar keilmuan. Setelah ini masih harus dilanjutkan dengan belajar berbagai ilmu lainnya. Baik ilmu agama maupun ilmu pasti dan sosial.
“Banyak buku yang harus dibaca, dipelajari, banyak guru, dosen yang harus didatangi,” katanya.
Direktur Madrasah Mu`allimin, H. Aly Aulia, Lc., M. Hum. memyampaikan bahwa “Lulusan kita adalah bagian dari mata rantai Anak Panah Muhammadiyah yang akan bergerak ke berbagai penjuru dunia.
Mereka adalah harapan bangsa dan umat. Hari ini kita melepas, besok mereka akan kembali membawa cahaya perubahan,” Pesan ini menjadi harapan besar bagi siswa Madrasah Mu`allimin agar berdiaspora ke berbagai wilayah dan tempat di mana mereka nanti berada.
Acara pelepasan ini semakin berkesan dengan penekanan nuansa Palestina, yang dihadirkan sebagai simbol keberpihakan dan pembelaan terhadap kemanusiaan.
Disertai dengan penampilan seni dan budaya yang mengangkat tema persatuan dan solidaritas, acara ini diharapkan dapat menanamkan etos kepada para alumni. “Pendidikan yang kalian terima di sini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus dapat memberi terang bagi sesama.
Di akhir acara, para siswa mendapatkan piagam penghargaan sebagai tanda kelulusan, sekaligus menyaksikan penyerahan simbolis oleh para tokoh kepada perwakilan siswa.
Semangat yang penuh dengan harapan dan cita-cita membara di wajah para siswa, menandakan bahwa mereka siap untuk meneruskan perjalanan di masyarakat dengan bekal ilmu dan nilai-nilai luhur yang telah diajarkan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah.
Acara ini diakhiri dengan doa, yang dipimpin oleh salah satu guru, mengharapkan berkah dan kecemerlangan bagi masa depan para siswa.
Editor : Heru Pratomo