GUNUNGKIDUL - Di tengah lahan seluas satu petak sawah yang berada dalam kompleks Sekolah Luar Biasa (SLB) Purwo Raharjo, aktivitas para siswa tampak berbeda dari sekolah pada umumnya.
Mereka sibuk menyiram, memupuk, hingga memanen tanaman yang mereka rawat sendiri. Mulai dari cabai, jagung, bawang merah, hingga pare, semuanya tumbuh subur berkat tangan-tangan penuh ketekunan dari anak-anak disabilitas.
SLB yang terletak di Padukuhan Tompak, Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul ini memiliki pendekatan pembelajaran yang unik dan membumi. Langsung praktik di lapangan. Tidak hanya belajar menanam, para siswa juga dibimbing hingga tahap pemasaran hasil panen ke desa sekitar hingga ke pasar.
“Anak-anak tidak hanya dikenalkan cara menanam, tapi juga bagaimana merawat dan menjual hasilnya. Semuanya dikelola oleh siswa sendiri,” ujar pengajar di SLB Purwo Raharjo, Amin Nuraisyah saat ditemui di sela-sela mengajar pada Senin, (21/7).
Kegiatan ini tidak sekadar menanam. Tetapi sekaligus memberi pengalaman hidup dan keterampilan praktis yang bermanfaat di masa depan. Salah satu contoh keberhasilan adalah dua karung cabai hijau yang habis terjual pekan lalu. Seluruh prosesnya dilakukan oleh siswa secara mandiri dengan pendampingan guru.
Menurut Amin, pendekatan praktik langsung lebih efektif dibanding teori. Guru memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian siswa mencoba sendiri. “Mereka tidak cepat paham, tapi anak-anak di sini telaten. Mereka belajar sampai bisa,” ujarnya.
Menariknya, jenjang SD LB, SMP LB dan SMA LB di sekolah ini tidak hanya bersebelahan secara usia,. Tetapi juga saling mendukung dalam proses belajar.
Siswa SMA kerap membantu dan membimbing siswa SMP saat praktik di kebun. Pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Ada yang butuh satu bulan, ada yang lebih dari satu semester. “Kami sesuaikan dengan kondisi masing-masing,” tambah Amin.
Tidak hanya membekali keterampilan, kegiatan ini juga mendorong kemandirian ekonomi. Uang hasil panen diserahkan langsung ke siswa, agar mereka mengetahui nilai dari kerja keras mereka sendiri.
“Ini penting untuk memupuk rasa percaya diri. Bahwa mereka juga bisa berpenghasilan, bisa mandiri,” katanya.
Kepala sekolah SLB Purwo Raharjo, Rujiyanta, menjelaskan bahwa sekolah ini melayani anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti tuna rungu dan tuna grahita. Komunikasi dilakukan melalui bahasa isyarat, dan sebagian besar siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan baik.
Dengan metode yang inklusif dan penuh kesabaran, SLB Purwo Raharjo membuktikan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bisa adaptif dan produktif. Tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih mandiri dan bermakna.
“Anak-anak sangat antusias. Meski beberapa butuh waktu lebih lama, kami tidak pernah lelah mendampingi,” ujar Rujiyanta. (pra)
Editor : Heru Pratomo