MUNGKID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menilai, salah satu persoalan besar pendidikan Indonesia saat ini bukan hanya soal mutu akademik. Melainkan juga masalah karakter generasi muda. Terlebih kepada para generasi stroberi.
Dalam berbagai kasus, kata Mu'ti, sekolah masih menghadapi fenomena kekerasan, baik dilakukan oleh siswa maupun menimpa siswa itu sendiri. Selain itu, perkembangan teknologi digital yang begitu cepat juga memunculkan tantangan baru dalam membangun keadaban di ruang publik.
"Kalau kita lihat media sosial, seperti apa isinya, itu cermin dari keadaban generasi kita sekarang ini," ujarnya pada kuliah umum di Pondok Pabelan, Mungkid, Kamis (28/8).
Baca Juga: Direktur Utama Jasa Marga Tegaskan Peran Jalan Tol TransJawa dalam Memperkuat Konektivitas dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Menurutnya, ada kecenderungan anak-anak muda saat ini disebut sebagai 'generasi stroberi' atau generasi yang secara fisik terlihat sehat dan kuat, tetapi mentalnya rapuh. "Generasi stroberi itu fisiknya gagah tapi mentalnya ringkih," imbuhnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah berkomitmen membangun pendidikan yang menekankan pembentukan karakter. Baik dari sisi ketangguhan mental maupun keadaban perilaku sehari-hari. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali menekankan pentingnya pendidikan karakter.
Dia menyebut, sejumlah program pun mulai diterapkan. Antara lain tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, program penguatan karakter, hingga gerakan pagi ceria di sekolah-sekolah.
Menurutnya, ada kecenderungan anak-anak muda saat ini disebut sebagai 'generasi stroberi' atau generasi yang secara fisik terlihat sehat dan kuat, tetapi mentalnya rapuh. "Generasi stroberi itu fisiknya gagah tapi mentalnya ringkih," imbuhnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah berkomitmen membangun pendidikan yang menekankan pembentukan karakter. Baik dari sisi ketangguhan mental maupun keadaban perilaku sehari-hari. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali menekankan pentingnya pendidikan karakter.
Dia menyebut, sejumlah program pun mulai diterapkan. Antara lain tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, program penguatan karakter, hingga gerakan pagi ceria di sekolah-sekolah.
Selain itu, pemerintah memperkuat peran guru bimbingan konseling (BK) sebagai pendamping sekaligus motivator bagi siswa.
"Guru BK bukan hanya tempat curhat, tapi juga harus bisa memberikan layanan pendampingan pendidikan supaya anak-anak termotivasi meningkatkan kualitas diri," jelasnya.
Mu’ti menegaskan, membangun karakter bukan sekadar retorika, melainkan harus menjadi proses pendidikan yang berkelanjutan. "Kita ingin pendidikan ini menjadi jalan untuk membentuk generasi yang bermental kuat dan berkeadaban tinggi," pungkasnya. (aya)
"Guru BK bukan hanya tempat curhat, tapi juga harus bisa memberikan layanan pendampingan pendidikan supaya anak-anak termotivasi meningkatkan kualitas diri," jelasnya.
Mu’ti menegaskan, membangun karakter bukan sekadar retorika, melainkan harus menjadi proses pendidikan yang berkelanjutan. "Kita ingin pendidikan ini menjadi jalan untuk membentuk generasi yang bermental kuat dan berkeadaban tinggi," pungkasnya. (aya)