MAGELANG — Di tengah tantangan ekonomi global, Fakultas Ekonomi Universitas Tidar (Untidar) terus memperkuat jejaring akademik internasional. Melalui Tidar International Conference on Economics, Management, Business, and Accounting (TICEMBA) 2025, ratusan akademisi dan praktisi ekonomi berkumpul di Gedung Kuliah Umum dr HR Suparsono untuk berbagi gagasan dan hasil riset terkait pembangunan berkelanjutan di era perubahan.
Konferensi yang digelar secara hybrid ini diikuti oleh 269 peserta. Terdiri atas 200 peserta luring dan 69 peserta daring, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan instansi pemerintahan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: Aksi Bobol ATM Bank Jateng di Tengah Ricuh Pekalongan, Enam Tersangka Ditangkap Usai Dilacak Sebulan
Tahun ini, TICEMBA mengusung tema 'Sustainable Development in Changing World: Challenges, Solutions, and Collaborations'. Yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto menyebut, TICEMBA menjadi bagian dari komitmen Untidar dalam membangun jejaring akademik yang produktif dan berorientasi global. Menurutnya, kolaborasi internasional semacam ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi juga sarana menemukan solusi nyata bagi persoalan pembangunan di daerah.
Melalui TICEMBA, Untidar ingin melahirkan ide dan riset inovatif. "Yang dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional," ujar Sugiyarto, Kamis (30/10).
Baca Juga: Makna Filosofis Sosok Semar dalam Dakwah Islam Ala Sunan Kalijaga di Pewayangan Jawa
Tahun ini, TICEMBA menghadirkan tiga pembicara utama dari berbagai latar belakang dan negara. Mereka adalah Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, Prof Norlida Hanim Mohd Salleh dari Universiti Kebangsaan Malaysia, serta Dr Dominic Mahon dari University of Surrey, Inggris.
Ketiganya mengulas bagaimana kolaborasi lintas negara dapat menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan ekonomi di tengah perubahan global yang cepat.
Gelaran tahun ini menegaskan peran Untidar sebagai perguruan tinggi daerah yang berorientasi global, namun tetap berpijak pada kepentingan lokal. Dengan mempertemukan akademisi, birokrat, dan pelaku industri, TICEMBA menjadi bukti nyata bahwa Magelang tidak hanya menjadi penonton dalam arus perubahan dunia, melainkan turut berperan aktif dalam membangun masa depan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Hadir dengan Penyegaran Terbaru, New Honda Genio Makin Bergaya Retro dan Fashionable
Dalam sesinya, Prof Norlida Hanim Mohd Salleh menyoroti pentingnya sinergi antarwilayah dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan. Dia mencontohkan potensi kolaborasi antara Semarang, Magelang, dan Yogyakarta dalam mengembangkan pariwisata hijau dan inklusif.
Dia menilai, Semarang memiliki kekuatan pada heritage dan transformasi urban, Magelang unggul dengan spiritualitas dan agrowisatanya, sedangkan Yogyakarta adalah jantung kreativitas dan komunitas. "Jika tiga kota ini berkolaborasi, mereka bisa menciptakan ekosistem ekonomi dan sosial yang tangguh," jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, konferensi ini sebagai momentum penting bagi sinergi antara pemerintah dan dunia pendidikan. Menurutnya, kolaborasi riset dan inovasi kampus dapat mendorong pengembangan kebijakan daerah yang adaptif terhadap perubahan ekonomi global.
Dia juga bangga karena Untidar mampu menghadirkan forum internasional seperti TICEMBA. "Ini bukan hanya mengangkat nama Magelang di kancah akademik, tetapi juga memperkuat peran kota ini sebagai pusat inovasi dan pendidikan," tutur Damar.
Selain menjadi ajang akademik, TICEMBA juga berfungsi sebagai platform pertukaran ide dan hasil penelitian yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan. Diskusi yang berlangsung melibatkan berbagai isu strategis, mulai dari ekonomi hijau, manajemen sumber daya, hingga transformasi digital di sektor bisnis. (aya)
Editor : Heru Pratomo