Kemunculan monyet ekor panjang di pekarangan rumah dan ruang publik jadi perhatian. Fenomena ini bukan hanya soal gangguan, tapi juga tantangan bagi manusia dan satwa untuk hidup berdampingan.
Menurut Prof Huda S Darusman, Kepala Pusat Studi Satwa Primata IPB University, perilaku monyet ini adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Mereka cepat belajar, terutama mencari sumber pakan yang mudah dijangkau,” ujarnya. Meskipun musim hujan menyediakan makanan alami, monyet tetap mendekati manusia karena sampah makanan menjadi target utama.
Prof Huda menekankan bahwa mengusir monyet saja tidak cukup. Strategi efektif harus mengatasi akar masalah: interaksi manusia dan ketersediaan pakan mudah diakses.
Salah satu metode yang telah dicoba IPB sejak 2017 adalah menenangkan kelompok primata dengan penanganan selektif pada alpha male. Ketika pemimpin kelompok ditangani, struktur sosialnya buyar, dan monyet cenderung menjauh dari permukiman.
Selain itu, IPB tengah menguji solusi jangka panjang, termasuk feeding point di dekat habitat asli, reboisasi pohon pakan, dan edukasi warga tentang cara membuang sampah tertutup.
Prof Huda menegaskan, keberhasilan strategi ini bergantung pada disiplin manusia: “Kalau sampah makanan masih berserakan, primata akan terus kembali,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan warga untuk tidak berinteraksi fisik dengan monyet. Gigitan atau cakaran berpotensi menularkan penyakit, dan satwa bisa bereaksi agresif saat merasa terancam.
Dengan kombinasi manajemen habitat, disiplin warga, dan pengawasan primata, monyet diharapkan tetap berada di wilayah alaminya tanpa menimbulkan gangguan bagi manusia.
Editor : Heru Pratomo