YOGYAKARTA – Diabetes Melitus (DM) kini menjadi ancaman serius bagi semua kalangan usia, mengingat Indonesia telah masuk dalam 10 besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. Menghadapi penyakit kronis ini, pasien tidak hanya membutuhkan perawatan medis, tetapi juga dukungan psikologis jangka panjang.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi Martaria Rizky Rinaldi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mahasiswa program doktoral Fakultas Psikologi UGM, mengembangkan inovasi bernama Hypnodiacare. Hal tersebut dipaparkannya dalam ujian terbuka doktor di Fakultas Psikologi UGM, Rabu (14/1).
Baca Juga: Kendaraan Listrik Menjamur, Samsat Kebumen Sebut Berdampak pada Penurunan Pendapatan Daerah
Menyasar Aspek Emosi yang Terlupakan Menurut Kiky—sapaan akrabnya—pasien DM Tipe 2 sering mengalami kelelahan emosional, stres, dan kecemasan akibat manajemen diri yang sangat ketat.
"Selama ini penanganan diabetes lebih banyak fokus pada edukasi manajemen diri secara kognitif, namun belum menyasar aspek psikologis atau emosi secara mendalam," jelas Kiky.
Apa itu Hypnodiacare? Hypnodiacare merupakan model intervensi terintegrasi yang menggabungkan dua aspek utama:
-
Edukasi Manajemen Diri: Pengetahuan praktis mengenai diet, konsumsi obat, dan aktivitas fisik.
-
Hipnosis Klinis (Clinical Hypnosis): Teknik relaksasi dan sugesti untuk menata ulang masalah emosi dan meningkatkan motivasi kesembuhan.
Dampak Nyata: Mental Tenang, Jantung Lebih Sehat Penelitian Kiky menunjukkan hasil yang signifikan baik secara psikologis maupun fisik (psikofisiologis). Secara mental, pasien merasa lebih tenang, emosi stabil, dan motivasi untuk hidup sehat meningkat tajam.
"Secara fisik, terjadi perubahan nyata pada gelombang otak—baik alpha, beta, maupun theta—yang menandakan relaksasi dalam. Selain itu, terlihat adanya perbaikan pada regulasi jantung pasien," ungkapnya.
Kiky menyimpulkan bahwa Hypnodiacare terbukti efektif sebagai terapi pendamping pengobatan medis. Inovasi ini menawarkan model intervensi baru yang membantu pasien mengelola penyakitnya dengan lebih baik dan berkelanjutan.
Editor : Heru Pratomo