MUNGKID - Sebanyak 47 siswa SMA Taruna Nusantara (TN) Kampus Magelang berhasil mengantongi sedikitnya 159 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai perguruan tinggi luar negeri. Capaian ini menjadi penanda meningkatnya daya saing pelajar Indonesia di level global.
Pjs Kepala Humas SMA Taruna Nusantara Kampus Magelang Muhammad Ibrahim mengutarakan, dari 47 siswa, total LoA yang berhasil dihimpun mencapai sekitar 159.
"Bahkan ada satu siswa yang memperoleh hingga 15 LoA luar negeri, kemudian ada yang 13, 11, dan 10 LoA. Selebihnya juga mendapatkan lebih dari satu," ujar dia di kantornya, Senin (6/4).
Baca Juga: Polres Gunungkidul Tutup Lima Aktivitas Tambang Ilegal, Pelaku Diminta Segera Urus Izin
Dia menyebut, satu siswa tidak hanya melamar ke satu kampus, tetapi bisa diterima di beberapa universitas sekaligus. Bahkan dalam beberapa program studi berbeda di kampus yang sama.
Ibrahim mengakui, jumlah siswa yang mendapatkan LoA tahun ini meningkat signifikan. Hal itu tidak lepas dari intervensi program pemerintah melalui Sekolah Garuda. SMA Taruna Nusantara menjadi satu dari 12 sekolah yang terpilih dalam program tersebut.
Melalui program ini, kata dia, siswa mendapatkan pendampingan intensif, mulai dari persiapan SAT, IELTS, hingga kolaborasi riset. Pendampingan dilakukan bersama perguruan tinggi, satu di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga: Bukan untuk Liburan, Wajib Buat Laporan Bulanan: Pengawasan Pegawai Pemkot Jogja Diserahkan Kepala OPD
Ibrahim menyebut, program ini menjadi faktor pendorong utama meningkatnya jumlah LoA. "Siswa mendapatkan mentoring langsung dari dosen, sehingga lebih siap menghadapi seleksi internasional," jelasnya.
Selain itu, banyaknya LoA juga berkaitan dengan persyaratan Beasiswa Garuda, yang mendorong siswa untuk mendaftar ke berbagai universitas di lintas benua sebagai bagian dari strategi seleksi.
Di dalam negeri, SMA Taruna Nusantara juga mencatat capaian melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dengan 22 siswa diterima di berbagai perguruan tinggi ternama seperti UI, UGM, ITB, hingga Universitas Airlangga (Unair).
Baca Juga: Siswa SD Baru, Tegalmulyo, Kepek, Wonosari Patah Tulang usai Jatuh ke Sungai saat Duduk di Tepi Jembatan
Ke depan, lanjut Ibrahim, jumlah penerimaan masih berpotensi bertambah karena beberapa hasil seleksi internasional belum diumumkan. Sekolah menargetkan tingkat keterserapan lulusan mencapai 70 hingga 90 persen, baik di perguruan tinggi dalam negeri, luar negeri, maupun sekolah kedinasan.
Satu capaian tertinggi diraih oleh Maulana Ariq Abhyasa Ruchiat asal Bogor yang mengantongi 15 LoA dari kampus luar negeri dan masih menunggu tiga hasil lainnya. Daftar universitas yang menerimanya mencakup kampus-kampus ternama seperti McGill University di Kanada, University of British Columbia, University of Toronto, hingga Monash University di Australia dan Ritsumeikan APU di Jepang.
Meski memiliki banyak pilihan, Ariq mengaku, masih mempertimbangkan keputusan akhir, terutama karena berkaitan dengan peluang beasiswa. "Saya ingin memperluas jaringan internasional agar bisa meningkatkan daya saing di tingkat global," paparnya.
Baca Juga: Profil Brigjen Yuniar Dwi Hantono, Danrem 072/Pamungkas Baru yang Merupakan Alumni UGM
Sementara itu, siswa lainnya, Rafif Farand Hardjanto asal Pekalongan, bahkan mencatat total 21 penerimaan dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Dia menargetkan Hong Kong University of Science and Technology sebagai pilihan utama dengan jurusan bisnis dan manajemen. Namun, dia masih menunggu hasil dari sejumlah universitas di Eropa dan Australia.
Di balik capaian tersebut, para siswa mengandalkan strategi belajar yang terukur dan konsisten. Rafif, misalnya, menerapkan pola belajar dua jam setiap hari di luar jam sekolah, dengan fokus pada kualitas pemahaman. "Bukan soal lama belajar, tapi seberapa paham kita dengan materi," sebutnya.
Pendekatan serupa juga diterapkan Ariq yang menitikberatkan pada penguasaan bahasa Inggris dan persiapan tes internasional seperti IELTS, serta latihan intensif setiap hari. Selain akademik, keduanya juga aktif membangun kemampuan komunikasi dan diskusi sebagai bekal menghadapi seleksi global. (aya)