Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Pakar UGM Beberkan 'Gaya' Unik Orang Indonesia Saat Pakai Bahasa Inggris

Heru Pratomo • Selasa, 12 Mei 2026 | 12:34 WIB
ilustrasi bahasa Inggris
ilustrasi bahasa Inggris

 

 

YOGYAKARTA – Bahasa Inggris telah berkembang menjadi alat komunikasi global di tengah masyarakat dunia yang semakin multibahasa. Namun, penggunaan bahasa Inggris di Indonesia memiliki karakteristik unik karena sangat dipengaruhi oleh latar budaya dan bahasa lokal.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Prof. Dr. Aris Munandar, M.Hum., dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Pragmatik Inggris di Balai Senat UGM, Kamis (7/5). Dalam pidato berjudul ‘Kompetensi Pragmatik Bahasa Inggris dalam Konteks Masyarakat Multilingual Indonesia’, ia menyoroti bagaimana nilai kesantunan lokal tetap melekat saat masyarakat Indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa asing.

"Karakteristik bahasa Inggris yang digunakan masyarakat Indonesia memiliki kekhasan yang dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa daerah," ujar Aris. Hal ini terlihat dari cara masyarakat menyampaikan pendapat, meminta maaf, hingga menjaga hubungan interpersonal dalam percakapan yang cenderung mengedepankan keharmonisan, solidaritas, dan kedekatan sosial.

Baca Juga: Resep Eksklusif: "Tumis Kecipir Bumbu Terasi Pedas Jeruk Limau"

Pergeseran Menuju Bahasa yang Pluralistis Aris menjelaskan bahwa bahasa Inggris saat ini tidak lagi didominasi oleh kelompok negara tertentu, melainkan telah menjadi bahasa internasional yang pluralistis. Ia menilai orientasi pembelajaran yang terlalu terpaku pada standar penutur asli (native speaker) sering kali membuat variasi bahasa Inggris lainnya dianggap kurang tepat.

Padahal, realitas komunikasi internasional saat ini justru lebih banyak berlangsung antarsesama penutur dari negara non-bahasa Inggris. Dalam situasi ini, kemampuan memahami konteks budaya dan strategi komunikasi menjadi jauh lebih krusial daripada sekadar ketepatan tata bahasa.

"Bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang monolingual, melainkan pluralistis," tegasnya.

Baca Juga: Usai Kasus Little Aresha, Pengasuh Daycare Diusulkan Wajib Psikotes: Disdikpora Kota Jogja Lakukan Kajian

Pengaruh Lingkungan Multilingual Indonesia Sebagai negara dengan ratusan bahasa daerah, masyarakat Indonesia dinilai telah terbiasa bernegosiasi dengan perbedaan bahasa dan budaya. Pengalaman hidup dalam lingkungan multilingual ini membentuk pola komunikasi yang khas.

"Penggunaan strategi kesantunan positif lebih dominan digunakan di Indonesia," ungkap Aris.

Namun, ia menyayangkan masih kuatnya pandangan yang menempatkan norma negara penutur asli sebagai standar tunggal, termasuk dalam tes bahasa Inggris internasional. Akibatnya, variasi bahasa Inggris yang berkembang sesuai konteks sosial dan budaya di negara-negara lain, termasuk Indonesia, kurang mendapat perhatian.

Baca Juga: Tim Voli Purworejo Berhasil Raih Posisi Runner Up Kejurnas Bola Voli Indoor U-18 Tahun 2026

Pentingnya Kompetensi Pragmatik Sebagai penutup, Prof. Aris menekankan bahwa pemahaman terhadap pragmatik dan komunikasi lintas budaya adalah bekal penting untuk interaksi global yang efektif. Kemampuan berbahasa Inggris seharusnya tidak hanya diukur dari aspek linguistik semata, tetapi juga kemampuan menyesuaikan pilihan bahasa dengan situasi budaya lawan bicara.

Ia mendorong pendekatan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia agar lebih terbuka terhadap keberagaman praktik komunikasi global. "Masyarakat Indonesia tidak boleh terjebak pada orientasi monolingualisme," pungkasnya.

Editor : Heru Pratomo
#aris munandar #multilingual #toefl #bahasa inggris #FIB UGM