Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Bedah Pemikiran Kuntowijoyo di UGM: Bukan Ilmu yang Diislamkan, tapi Islam yang Diilmiahkan

Heru Pratomo • Jumat, 22 Mei 2026 | 05:50 WIB
Diskusi Bulaksumur UGM ke-48: Merajut Sistem Pengetahuan Transformatif Lewat Pemikiran Kuntowijoyo
Diskusi Bulaksumur UGM ke-48: Merajut Sistem Pengetahuan Transformatif Lewat Pemikiran Kuntowijoyo

 

 

Selama beberapa dekade terakhir, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. tetapi kerap kali tidak diikuti dengan penguatan kemanusiaan dan keadilan sosial. Nilai-nilai seperti kemanusiaan, integritas, keberlanjutan, dan keberpihakan sering hadir sebagai slogan normatif, namun belum sepenuhnya diwujudkan. Melalui gagasan pemikiran Kuntowijoyo bahwa ilmu tidak cukup hanya menjelaskan realitas, tetapi juga harus mampu mentransformasikannya.

Hal ini yang akan dibahas dalam Diskusi Pemikiran Bulaksumur edisi ke-48 yang diselenggarakan oleh Dewan Guru Besar (DGB) yang bertajuk Sistem Pengetahuan Transformatif Berbasis Nilai: Pemikiran Kuntowijoyo, di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM, Rabu (20/5). Diskusi ini menghadirkan berbagai perspektif lintas disiplin untuk membangun fondasi model transformasi sosial berbasis nilai. Dari dimensi epistemologi hingga pendidikan dan kesehatan didiskusikan dalam forum ini.

Baca Juga: Duh, Dalam Empat Bulan, 15 Ekor Sapi Mati di Gunungkidul akibat PMK: Pemkab Gencarkan Vaksinasi Ribuan Dosis

Seperti diketahui, Kuntowijoyo Guru Besar Sejarah di Universitas Gadjah Mada yang dikenal sebagai sejarawan, budayawan, dan sastrawan besar Indonesia yang lahir pada tahun 1943 dan wafat pada tahun 2005.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Setiadi, menegaskan pemikiran Kuntowijoyo mengenai Islam sebagai ilmu yang berperan sebagai jalan transformasi sosial menjadi sangat relevan. Karena menurutnya, esensi kehidupan manusia berakar dari karakteristik individual yang sangat mendalam, yaitu nilai-nilai dalam diri manusia. “Apakah kita menjadi umat islam yang sempurna atau tidak bisa kita lihat dari apa yang dihasilkan dari perilaku kita,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Filsafat UGM, Dr. Arqom Kuswanjono, S.S., M.Hum., menyoroti pemikiran Kuntowijoyo mengenai islam sebagai ilmu dan epistemologi serta strukturalisme transendental. Ia menanggapi gagasan islamisasi sebagai upaya mengislamkan ilmu-ilmu Barat yang dianggap sekuler.

Baca Juga: Pengadaan Tanah untuk JJLS di Empat Kalurahan Wilayah Kulon Progo Dilanjutkan, BPN Mulai Lakukan Penyusunan Dokumen

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa pemikiran Kuntowijoyo mengintegrasikan pemikiran rasio empiris, filsafat, tasawuf, dan agama. Menurut Kuntowijoyo, kitab suci yang sifatnya mutlak, dibaca oleh manusia yang berada pada dalam konteks sejarah tersebut. “Jadi, misal kalau ayat dibaca tahun 19-an akan berbeda jika dibaca pada tahun 2000-an,” jelasnya.

Hal ini terjadi karena konteks sejarah dan ilmu selalu berkembang. Oleh karenanya, tafsir dari Al-Quran perlu dimuat ulang secara terus menerus, karena perubahan zaman selalu berkembang. Jika tafsir tidak diperbarui, maka akan ditinggalkan. Hal ini menjadi asumsi Arqom mengapa pada zaman sekarang agama banyak ditinggalkan.

Menurutnya, yang diambil dari pemikiran Kuntowijoyo, seharusnya bukan ilmu yang perlu diislamkan, tetapi islam yang perlu dikaji secara ilmiah. Islam harus ditransformasikan dari sekedar ajaran normatif menjadi ilmu yang objektif, empiris, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sosial. “Islam tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi juga menjadi paradigma keilmuan yang mampu membangun peradaban,” jelasnya.

Baca Juga: Bicara Tanggung Jawab Sosial Lulusan UGM, Anies Baswedan: Kalau Orang Baik Diam, Masalah Negeri Tak Selesai

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKK-MK), Prof. dr. Mora Claramita, MHPE., Ph.D.,Sp.KKLP., menjelaskan pemikiran Kuntowijoyo terkait Islam sebagai pengetahuan melalui perspektif ilmu kedokteran keluarga. Melalui tafsir Al-Qur’an mengenai ayat-ayat yang memiliki kandungan ilmu kedokteran.

Mora mencontohkan QS Al Baqarah ayat 168 terkait makanan halal dan sehat. Ayat ini menunjukkan apa yang harus dan dilarang dikonsumsi oleh manusia demi kesehatan. Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat Al Quran ini jika dipahami secara satu persatu isinya adalah pengetahuan luar biasa untuk kehidupan manusia. “Islam is knowledge is evident, karena terbukti secara ilmiah,” pungkasnya.

Istri Kuntowijoyo, Drs. Susilaningsih, M.A menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah  mendiskusikan pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo. Ia berharap bahwa buku-buku dari Kuntowijoyo  yang pernah ia tulis dapat menginisiasi pemikiran-pemikiran baru yang bisa bermanfaat lebih luas. “Atas nama keluarga, kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang menjadikan buku Mas Kunto masih bermanfaat secara luas,” ungkapnya.

Editor : Heru Pratomo
#diskusi bulaksumur ugm #kuntowijoyo #dewan guru besar #UGM #al-quran