SLEMAN - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa (Sema) UGM. Deklarasi organisasi baru tersebut digelar di Bundaran UGM bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila Senin (1/6).
Plt Ketua BEM UGM sekaligus Ketua Sema UGM 2026 Sheron Adam Funay menjelaskan, transformasi tersebut merupakan respons atas berbagai persoalan yang selama ini dinilai melekat pada organisasi mahasiswa. Termasuk elitisme dan fragmentasi gerakan di BEM.
Menurutnya, Sema UGM hadir dengan model organisasi yang berbeda dari BEM yang selama ini dikenal sebagai organisasi eksekutif mahasiswa tingkat universitas. "Sema itu bukan lagi sebagai badan eksekutif yang hierarkis, tetapi yang egaliter,” bebernya.
Baca Juga: DPKP DIY Lirik Potensi Green House hingga Mal Pertanian untuk Dikembangkan di Jogja Agro Park
Sema, lanjutnya, menyetarakan kedudukan mahasiswa hingga tingkat fakultas. “Kami coba obati berbagai macam penyakit, terutama fragmentasi gerakan itu sendiri," ujar mahasiswa Fisipol UGM ini.
Menurutnya, perubahan yang dilakukan bukan sekadar pergantian nama organisasi. Sebab terdapat perubahan mendasar dalam cara kerja dan posisi organisasi di lingkungan kampus.
Ia menjelaskan Sema tidak lagi mengklaim sebagai representasi tunggal seluruh mahasiswa UGM. Sebaliknya, organisasi tersebut hanya mewakili anggotanya sendiri dan menempatkan organisasi mahasiswa lain pada posisi yang setara.
Baca Juga: Wow, Puluhan Balon Udara Hiasi Langit Candi Ngawen: Jadi Magnet Wisata Waisak 2570 BE dalam BPF 2026
"Suara mahasiswa UGM itu dimiliki oleh masing-masing, tidak dimiliki oleh BEM. Serikat Mahasiswa UGM kepentingannya untuk anggota saja, bukan untuk secara seutuhnya," katanya.
Selain itu, Sema UGM juga mengubah mekanisme regenerasi kepemimpinan. Jika sebelumnya BEM dipilih melalui Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), kini pemilihan dilakukan secara internal dengan basis meritokrasi, berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan prestasi.
Sheron menilai Pemilwa selama ini memiliki persoalan yang menyerupai dinamika politik nasional, mulai dari patronase hingga praktik-praktik politik yang tidak sehat. "Kita coba menjunjung tinggi meritokrasi dan kerja keras teman-teman, jadi mereka mendapat posisi strategis karena kemampuannya, bukan karena kemenangan politiknya," ungkapnya.
Ke depan, Sema UGM akan memfokuskan diri pada proses konsolidasi pengetahuan dan penguatan basis ideologi organisasi. Sheron menyebut organisasi tersebut ingin terus memperbarui perspektif keberpihakan dan gerakan sesuai perkembangan zaman.
Sementara itu, Ketua BEM UGM 2025 Tyo Ardianto menilai, transformasi tersebut merupakan upaya menyesuaikan gerakan mahasiswa dengan tantangan politik dan sosial yang berkembang saat ini.
Menurutnya, model representasi mahasiswa yang selama ini digunakan sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi tingginya tingkat apatisme mahasiswa terhadap gerakan kampus. "Dalam konteks ini yang diperlukan sebenarnya bukan representasi, tapi partisipasi," kata Tyo.
Ia berharap transformasi yang dilakukan UGM dapat menjadi pemicu lahirnya perubahan serupa di kampus-kampus lain. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova