KULON PROGO - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo menggelar sosialisasi regrouping SD di wilayah Kokap, Kamis (25/6). Sosialisasi yang berlangsung di Balai Kalurahan Hargomulyo itu, justru mendapat respon penolakan dari komite hingga perwakilan orangtua.
Pantauan Radar Jogja di lokasi sosialisasi, peserta mayoritasnya berasal dari sembilan sekolah dasar yang direncanakan untuk regrouping pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027. Terdapat sembilan sekolah yang masuk dalam daftar undangan.
Sebagian Komite Sekolah, mempertimbangkan jarak dan faktor geografis saat sekolah digabung. Lantaran, kondisi geografis Kapanewon Kokap mayoritasnya perbukitan. Selain pertimbangan jarak, terdapat pertimbangan sejarah pembangunan sekolah.
Baca Juga: Evolusi Terbaru, AHM Hadirkan Skutik Sporti New Honda Vario Evo 160
Perwakilan Komite Sekolah SDN Proman Maisal Astrianto menyampaikan, orangtua atau wali murid sepakat menolak rencana regrouping. Sebenarnya, rencana regrouping telah didengar sejak awal tahun 2026 lalu. Saat itu pula, orangtua telah menggelar diskusi untuk menyatukan pendapat.
"Kami memilih untuk tidak di-regrouping, pertimbangannya terkait status tanah yang telah diwakafkan untuk sekolah," ucap Maisal, usai sosialisasi, Kamis (25/6).
SD Negeri Proman nantinya akan digabung dengan dua sekolah lain, yaitu SDN Teganing dan Jambean. Penggabungan sekolah itu, membuat siswa akan berpindah ke sekolah induk yang ditunjuk. Alhasil bangunan SD Negeri Proman tak dimanfaatkan kembali.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata Alam Menarik di Purworejo Mulai dari Gunung, Gua hingga Pantai
Penolakan serupa juga diungkapkan oleh tokoh masyarakat asal Kokap Ahmad Subangi. Mantan Anggota DPRD DIJ itu, menuturkan regrouping tak boleh hanya mengacu kajian akademis, tapi aspek sosial. Ia menyoroti regrouping SDN Hargomulyo dan SDN Banjaran. Menurutnya, SDN Hargomulyo tak perlu diregrouping.
Menanggapi penolakan itu, Kepala Disdikpora Kulon Progo Nur Wahyudi menyampaikan, regrouping. memeprtimbangkan efektivitas belajar, optimalisasi guru, dan usaha untuk peningkatan prestasi. "Kulon Progo sedang menghadapi kekurangan guru, jadi kami melakukan optimalisasi SDM guru," ungkapnya.
Sekolah yang di-regrouping merupakan sekolah dengan jumlah siswa sedikit. Hasil kajian Disdikpora dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menunjukkan jumlah siswa yang sedikit berpengaruh ke penurunan prestasi. Sehingga, penggabungan sekolah menjadi langkah terbaik yang dapat diambil. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo