Prestasi membanggakan datang dari dunia olahraga Kabupaten Gunungkidul. Keisya, bocah berusia sembilan tahun dari Kelurahan Kenteng, Kapanewon, Ponjong, berhasil meraih medali emas dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) catur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Capaian tersebut menjadi langkah penting bagi Keisya karena Ia selanjutnya mendapat kesempatan membawa nama DIY dalam ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang akan berlangsung di Banten.
Keisya yang kini duduk di kelas tiga SD Negeri Kenteng 1 mulai mengenal catur ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler saat masih kelas satu.
Ketertarikan itu muncul dari kemauannya sendiri, bukan karena dorongan orang tua. Kemampuan Keisya kemudian terlihat dan berkembang seiring dengan rutinitas latihan serta pengalaman mengikuti pertandingan.
Perjalanannya ternyata tidak selalu berjalan mulus. Keisya sempat terpikir untuk berhenti berlatih ketika masih berada di kelas satu SD.
Baca Juga: Jumenengan Hangabehi Jadi Sorotan, Polemik Suksesi Keraton Solo Belum Berakhir
Pelatihnya, Isrori Teguh, kemudian terus memberikan semangat dari agar Ia tidak meninggalkan permainan yang sudah mulai ditekuni tersebut. Memasuki kelas 2, motivasi Keisya kembali tumbuh dan Ia semakin serius berlatih hingga akhirnya mampu bersaing di tingkat DIY.
Kabar keberhasilan itu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih di kantor pemerintah daerah.
Ia datang bersama sang Ibu, Wahyuni, dan pelatihnya. Pertemuan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan atlet muda dari wilayah Ponjong yang mampu menembus persaingan olahraga di tingkat Provinsi.
Setelah meraih emas di tingkat DIY, Keisya kini memiliki tantangan yang lebih besar. Ia akan tampil di Kejurnas Banten sebagai bagian dari perwakilan DIY.
Untuk menghadapi persaingan nasional, pendampingan tidak hanya diarahkan pada kemampuan bermain catur, tetapi juga kesiapan mental. Pengurus Percasi Gunungkidul menyebut pendampingan teknis dan psikologis diperlukan agar perkembangan Keisya dapat terus terjaga.
Kisah Keisya menunjukkan bahwa potensi atlet muda bisa tumbuh dari lingkungan sekolah dan daerah yang jauh dari pusat kota.
Dari kegiatan ekstrakuriler sederhana, Ia mampu berkembang hingga meraih prestasi tingkat provinsi.
Baca Juga: Mengenal tradisi sembahyang rebutan yang masih dilestarikan di Semarang
Kini, papan catur menjadi jalan bagi Keisya untuk mengharumkan nama Ponjong dan Gunungkidul, sembari tetap mengejar cita-citanya di dunia pendidikan, termasuk keinginannya kelak menjadi seorang dokter.
Editor : Bahana.