JOGJA – Perpustakaan belum menjadi tujuan utama anak-anak. Apalagi di tengah banyaknya hiburan digital yang lebih mudah diakses, perpustakaan dituntut bukan hanya menyediakan buku. Tapi juga menciptakan pengalaman yang membuat anak ingin datang dan belajar.
Hal itu disampaikan Bunda Literasi Kota Jogja Siti Hafshah saat pembukaan Festival Literasi dan Arsip Spesial HUT ke-270 Kota Jogja n 2026 di Perpustakaan Kota Jogja, Senin (14/9). “Saya merasakan sendiri, mengajak anak ke perpustakaan itu bukan perkara mudah,” ujar Siti.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi orang tua, guru, pustakawan, dan masyarakat untuk bersama-sama mengubah cara pandang terhadap perpustakaan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lagu Jawa, “Suwara” Arya Galih Bawa Kisah Cinta dari Panggung Kesenian
Perpustakaan perlu dihadirkan sebagai tempat yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa datang hanya untuk membaca buku.
“Orang tua, guru, pustakawan, dan masyarakat untuk menghadirkan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan rangkaian Festival Literasi dan Arsip yang berlangsung pada 14–16 September 2026. Berbagai kegiatan dirancang untuk membuat perpustakaan lebih dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
Baca Juga: Warga Desa Adat Sade di NTB Mulai Bangkit Bangun Kembali Rumah Tradisional
Sementara itu, dalam talkshow, “Teacher Librarian: Menghidupkan Perpustakaan, Menguatkan Pembelajaran, Membangun Generasi Literat”, Pustakawan SD Tumbuh Cintantyo Yosi Putri, membahas pentingnya kolaborasi antara guru, pustakawan, perpustakaan, dan lingkungan pendidikan.
Menurut dia, membuat anak dekat dengan perpustakaan tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan buku. “Dibutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa nyaman, tertarik, dan menemukan kegembiraan dalam belajar,” tuturnya.
|
Editor : Heru Pratomo