Riyan (37), salah satu petugas kebersihan yang setiap hari "berperang" dengan sisa-sisa makanan dan minuman, hanya bisa menghela napas. Baginya, menjaga kebersihan Tamjam bukan sekadar soal menyapu lantai saja, tetapi juga soal menghadapi kebiasaan yang sulit diubah.
"Tempat sampah sudah ada, tapi tetap saja ada yang buang sampah sembarangan" tuturnya. Bagi Riyan, setiap sampah yang tertinggal adalah cerminan dari kepedulian yang juga ikut terbuang.
Baca Juga: Progres Jembatan Kewek Capai 42 Persen, Ditarget Bisa Dilewati Sebelum Nataru
Menariknya, tidak semua yang berserakan di Tamjam adalah masalah. Di antara sampah plastik yang mengganggu, terdapat guguran daun kering yang sebenarnya menyimpan potensi besar.
Jika dikelola dengan baik, daun-daun ini bisa bertransformasi menjadi pupuk organik dalam waktu tiga bulan. Namun, transformasi itu tentu butuh tangan-tangan yang peduli, bukan sekadar membiarkannya menumpuk.
Pada akhirnya, Tamjam adalah milik bersama. Kenyamanan tempat ini bergantung pada apakah kita ingin meninggalkannya dalam keadaan bersih untuk orang lain, atau justru meninggalkan "kenangan manis" berupa sampah bagi petugas kebersihan seperti Pak Riyan. Menjaga Tamjam tetap asri adalah salah satu bentuk paling sederhana bagi kita untuk mencintai kampus Sanata Dharma agar terbebas dari sampah.
Ferry Dwi