Tidak Hanya Sekadar Mengajar, Guru Gen Z ini Sebut Profesi Pendidik Harus “Palugada”

Magang Radar Purworejo • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 23:45 WIB
KOMITMEN BERSAMA: Siswa dan guru SMAN 2 Playen Gunungkidul sepakat membuat dan menaati peraturan kelas yang dibuat sendiri.
KOMITMEN BERSAMA: Siswa dan guru SMAN 2 Playen Gunungkidul sepakat membuat dan menaati peraturan kelas yang dibuat sendiri.

 

 

YOGYAKARTA– Menjadi seorang pendidik di era saat ini tidaklah mudah, akan ada tantangan tersendiri yang harus dihadapinya terutama bagi para generasi muda yang saat ini terjun secara langsung dalam dunia pendidikan.

Jonathan (23) merupakan seorang anak muda yang saat ini tengah menjadi seorang pendidik di salah satu SMA Swasta yang ada Yogyakarta. Ia membagikan pengalamannya mengenai perjalanan karirnya sebagai Guru Gen Z dan bagaimana ia berdinamika di dalam kelas. 

 

Keinginan Jonathan menjadi seorang guru berangkat dari pemikirannya saat masih berada di bangku persekolahan. Berawal dari pemikiran kritisnya terhadap bagaimana sistem pendidikan yang ada di Indonesia, kemudian ia memutuskan untuk terjun langsung & menapaki dunia pendidikan meskipun bukan berasal dari jurusan Pendidikan Keguruan.

Baca Juga: Tak Harus Memiliki, Ini Makna Cinta dalam Diam di Balik “Sarining Kartika” Setyo Puji 

Meskipun saat ini profesi Jonathan menjadi seorang guru, namun ia bukan berasal dari jurusan Pendidikan Keguruan melainkan Informatika. Sehingga ini juga menjadi tantangan extra baginya karena ia juga harus beradaptasi dengan apa yang saat ini menjadi profesinya. 

 

“Di sini yang tidak saya duga adalah bagian administrasi pembelajaran dan bagaimana cara pengendalian kelas. Lulusan kependidikan kan belajar pedagogi dan psikologi belajar, sementara saya sebagai lulusan dari jurusan Informatika juga tidak ada korelasinya di awal” ujar Jonathan.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia juga belajar bersama rekan-rekan yang memang berasal dari lulusan Pendidikan Keguruan untuk saling berkolaborasi dalam menciptakan ruang belajar yang menyenangkan. 

Baca Juga: Dilanda Kemarau Panjang, Berikut Tata Cara Salat Istiqa' dan Doa Memohon Hujan Umat Muslim

Sebagai guru Gen Z, Jonathan membawa warna tersendiri dalam bagaimana ia membawakan cara belajar karena berada di usia yang tidak terlalu jauh dengan usia murid-muridnya membuat suasana belajar lebih cair.

Ia tidak canggung ketika harus berdiskusi dengan para muridnya, mengerjakan proyek bersama hingga olahraga atau sekedar berkumpul dan berbincang-bincang bersama. Selain itu ia mengaku bahwa kebiasaan sebagai Gen Z juga terkadang tidak sengaja terbawa pada saat proses pembelajaran. 

 

“ Asbun (asal bunyi) kadang masih terbawa karena teringat saat masa SMA. Ikut main juga kadang sama anak-anak. Kalau misal olahraga gitu, ikut olahraga sama anak-anak. Terus diskusi tentang suatu proyek sama anak-anak juga saya diskusikan bareng mereka sih. Kalau mereka butuh saran, saya berikan saran. Kalau saya butuh saran dari mereka juga saya minta tolong dengan saran yang berasal dari pemikiran mereka. Jadi saling ngobrol aja meskipun dengan murid, friendlynya masih nempel. Friendly kayak seumuran gitu” ujar Jonathan pada saat diwawancarai. 

Baca Juga: Berkreasi dengan Daun, Stan Batik Stamping di FKY 2026 Jadi Rebutan Pengunjung

Bagi Jonathan sebagai guru Gen Z kritikan dari murid merupakan evaluasi besar. Pada saat awal mengajar, ia sempat menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran namun hal tersebut ternyata dikritik oleh murid-muridnya sehingga ia berusaha untuk memunculkan inovasi metode pembelajaran yang menyenangkan dan mengikutsertakan keterlibatan murid dalam proses belajar mengajar itu. 

 

Pada saat ditanya apa pandanganmu terhadap seorang guru yang keren itu? “Guru keren adalah guru yang bisa mengendalikan kelas dengan baik, menyampaikan materi tanpa merasa lelah atau burnout dan bisa keluar kelas dengan ceria tanpa beban” ujar Jonathan. 

 

Terakhir, Jonathan juga menyampaikan profesi guru dalam satu kata unik “Palugada” yang memiliki arti Apa Lu Butuh Gua Ada (Palugada). Jadi seorang guru itu adalah orang yang harus serba bisa seperti Superman atau Wonder Woman” tuturnya.

Franzeska Aurellea Paskaningtyas

 
 
Editor : Heru Pratomo
guru gen z palugada superman wonder woman Jonathan Bustos