KULON PROGO - Puluhan ribu siswa SMA dan SMP sederajat di Kulon Progo kembali mengikuti pemilihan OSIS serentak (Pemilos), Kamis (8/10). Ajang pendidikan politik ini, mengadaptasikan teknologi dalam pemberian hak suara. Lantaran, siswa memberikan hak suara dengan mode electronic voting (e-Voting).
Salah satu siswa SMAN 2 Wates Ahmad Tirta mengaku antusias mengikuti Pemilos di sekolahnya. Pasalnya, pemilos menjadi ajang yang ditunggu-tunggu dalam menentukan kepemimpinan OSIS.
Pasalnya, kepemimpinan OSIS akan mempengaruhi kegiatan siswa ke depannya, terutama ekstrakurikuler. Sehingga, siswa yang memiliki hak suara idealnya memberikan suara di bilik suara. "Tidak lama, kebetulan saya sudah menentukan pilihan sejak awal," ungkapnya.
Baca Juga: DIY Punya Kapolda Baru, Ini Profil Irjen Pol Langgeng Purnomo
Selama di bilik suara, Ahmad mengaku tak kesulitan dalam menentukan ketua osis yang dipilih. Lantaran, dirinya telah mengamati berbagai calon ketua selama proses kampanye dilakukan.
Selain itu, proses pemungutan memudahkan siswa sepertinya yang akrab dengan teknologi. Sebelum memberikan hak suaranya, siswa akan mengambil token e-voting. Kemudian token tersebut dimasukkan ke dalam aplikasi. Dari situlah, pemilih dapat memberikan hak suaranya.
Kordinator Panitia Pemilihan Organisasi (PPO) SMAN 2 Wates Aji Bagus Saputra menyampaikan, antusiasnya mengikuti pemilos tahun ini. Lantaran, baru pertama kali merasakan pemilos dengan model e-voting.
Baca Juga: HUT ke-270 Jogja, 74 Tim Pelajar Adu Kreativitas Lewat Lomba Mural
Modal pengalaman menjadi PPO nantinya akan dikembangkan saat pemilu yang akan datang. Dari beragam sosialisasi yang telah dijalankan, PPO memiliki nilai tambah dalam seleksi kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Potensi itulah, yang membuatnya tertarik ikut serta dalam pemilu yang akan datang.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kulon Progo Pratiwi Ngasaratun menyampaikan, pemilos merupakan sarana pendidikan politik bagi pemilih pemula. Karena mereka nantinya akan memberikan hak suaranya pada Pemilu 2029 nanti.
Secara langsung siswa SMP ataupun SMA dapat mencicipi demokrasi dalam lingkup sekolah. "Jadi yang hari ini mengikuti pemilos, nanti 2029 sudah menjadi pemilih pemula," ucap Pratiwi.
Baca Juga: Arya Wedakarna Soroti Etika Wisatawan Domestik di Bali: Singgung Tip hingga Kebiasaan Menawar
Pemilos untuk menentukan ketua dan wakil ketua OSIS masa bakti 2026-2027 ini, diikuti 90 sekolah. Di antaranya 45 SMP, 23 SMA/K, dan 22 MTs serta MA. Total daftar pemilih tetap (DPT) yang merupakan siswa berjumlah 29.493 siswa. Hasil ini menunjukkan peningkatan jumlah partisipasi pemilih. Lantaran, pada Pemilos 2025 hanya 81 sekolah dengan 25.956 siswa yang berpartisipasi.
Gelaran Pemilos 2026 dikonsep semirip mungkin dengan praktik pemilu. Lantaran, setiap sekolah diminta membentuk panitia pemilihan organisasi (PPO) dan ditetapkan melalui SK Kepala sekolah. Panitia yang berisi puluhan siswa itu, kemudian akan memulai tahapan pemilos dari sosialisasi, kampanye, pemungutan suara, hingga perhitungan suara. Puncak kegiatan PPO akan terjadi pada pemungutan suara yang digelar dari pukul 08.00 hingga 09.00.
Baca Juga: Konsumsi Alprazolam di Sleman Tembus 6,2 Juta Tablet, Dinkes Waspadai Penyalahgunaan
Saat pemungutan suara, siswa akan mengunjungi bilik suara. Di dalam bilik tertutup itu, terdapat perangkat komputer atau laptop yang telah dilengkapi aplikasi e-voting. Pemilik hak suara cukup mencantumkan token untuk masuk ke dalam aplikasi, kemudian mengklik calon ketua OSIS yang hendak mereka pilih.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyampaikan, ajang pemilos merupakan upaya pendidikan politik. Di samping itu, siswa mulai diajak berfikir ke arah demokrasi. Lantaran, demokrasi merujuk pada pemberian suara dan pendapat. Dari situlah, siswa belajar menentukan pemimpin ataupun belajar menghargai perbedaan pendapat. "Gunakan hak suara dengan bijak," ungkapnya.(gas/pra)
Editor : Heru Pratomo