Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Menikmati Cita Rasa Khas Sate Winong

Administrator • Sabtu, 13 Februari 2021 | 15:01 WIB
Sate Winong punya kekhasan pada bumbu kecapnya. Karena menggunakan kecap buatan sendiri, bukan kecap pabrikan.
Sate Winong punya kekhasan pada bumbu kecapnya. Karena menggunakan kecap buatan sendiri, bukan kecap pabrikan.
Radar Purworejo  Seperti kota-kota lainnya, Purworejo juga memiliki kuliner yang khas. Selain dawet, satu lagi yang banyak dicari adalah sate kambing. Sate kambing Winong satu di antara yang terkenal dan banyak diburu.

Berbeda dengan sate kambing kebanyakan, sate kambing Winong memiliki cita rasa yang berbeda. Tekstur dagingnya lembut dan terasa empuk. Pokoknya maknyus di lidah.

Bagi orang aseli Purworejo tentu tak sulit menemukannya. Bagi pendatang atau yang kebetulan lewat Purworejo juga gampang menemukannya. Cukup mengarahkan kendaraan ke arah Gebang-Kemiri. Di sana kita akan banyak menemukan warung-warung yang menjajakan sate kambing. Salah satunya warung sate yang dikelola Misbah di Kelurahan Mranti RT 2 RW 2 Kecamatan/Kabbupaten Purworejo.
Berada di sisi kanan jalan dari arah Purworejo Kota, mendekati lokasi jualannya. Semakin dekat kita disuguhi bau daging kambing yang khas. Ya, amat berbeda karena sajian yang diberikan pun berbeda dibandingkan sate kebanyakan.
Sate Winong punya kekhasan pada bumbu kecapnya. Karena memang semua pedagang sate ini menggunakan kecap buatan sendiri, bukan kecap pabrikan.

Sate Winong yang dikenal luas mulai tahun 1970an memang menggunakan daging kambing muda. Dari kambing jenis kacang, saat dipotong biasanya baru berumur sekitar 4-6 bulan. Biasanya satu ekor, bisa dihasilkan antara 400-500 tusuk sate dan sisanya digunakan untuk bahan gulai.
Saat membakar biasanya, kambing dalam tusukan akan dibakar terlebih dahulu tanpa diberikan bumbu. Sesaat setelah daging layu baru dicelupkan pada kecap racikan sendiri dan dibakar. Dari situlah aroma khas sate Winong akan mulai terasa menyengat.

Para penjual sate di sini dari dulu mengolah kecap sendiri untuk digunakan. Bumbunya ya dari kecap yang dibuat dari gula kelapa. Sebagai pelengkap sambal tomatnya tidak dari irisan lombok saja, tapi diuleg dan dicampur.

Tanpa menggunakan tusuk lagi, sate yang disajikan dalam piring akan terlihat mengumpul. Ditambah taburan irisan bawang merah, sampuran daun jeruk purut yang telah diremas sedemikian rupa.

Pertama kali irisan daging sate ke mulut akan didapatkan sensasi tersendiri dimana dalam sate akan dirasakan kesegaran daun jeruk purut yang memberikan cita rasa berbeda.

Harga porsi sate atau pun gulai Rp 20.000. Sementara nasi dan minuman diberikan harga terpisah. Jika ditotal satu porsi sate Winong atau gulai sekitar Rp 27.000.

Utomo, 34, salah satu pembeli mengaku pelanggan sate Winong. Tidak sekadar di salatu warung, dia kerap mencoba beberapa warung yang lain. Menurutnya, setiap warung memberikan cita rasa yang berbeda.

"Antara warung satu dan lainnya memang berbeda tapi tetap ada kekhasan sate Winong yang semua hampir sama," ujar Utomo. (din/er) Editor : Administrator
#sate