Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Andri Setiawan, Pekerja Muslim di Gereja Ganjuran, Bantul

Administrator • Senin, 3 Mei 2021 | 17:10 WIB
Andri Setiawan saat menjalani profesinya sebagai petugas kebersihan di Gereja Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.
Andri Setiawan saat menjalani profesinya sebagai petugas kebersihan di Gereja Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.
Bantul Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi setiap muslim yang taat. Termasuk Andri Setiawan, seorang muslim yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran.

Saat ditemui, pria 37 tahun ini sedang menyapu pelataran Gereja Ganjuran. Mengenakan caping untuk melindungi diri dari paparan matahari, dia agak gugup saat dilontari pertanyaan. “Ini intinya mau tanya, kenapa saya bekerja di sini walau saya muslim, gitu?” ujarnya balik bertanya (25/4).

Kisah ini berawal sekitar dua tahun lalu. Pria asli Kebumen, Jawa Tengah, ini mendapat informasi dari pakdenya bahwa Gereja Katolik berarsitektur Indische itu sedang mencari pegawai. Namun ayah tiga orang anak ini sempat merasa ragu.

“Rasanya ragu (takut, Red) waktu itu nggak diterima, karena yang masukin lamaran sembilan orang,” ucap pria yang akrab disapa Iwan itu.

Selain takut tidak diterima, ia pun merasa resah. Lantaran bila diterima dia akan dikucilkan. Kekhawatiran Iwan nyatanya tidak terbukti. Dia diterima bukan hanya sebagai pekerja, tapi lingkungan gereja juga merangkulnya.

“Setelah saya jalani, teman-teman dan romo semua merangkul dengan baik. Ternyata umat Katolik yang cinta kasih, selalu mendukung dan memperhatikan saya sebagai muslim,” sebutnya merasa haru.

Ya, lingkungan gereja pun turut memperhatikan keyakinan Iwan. Saat ada gelaran pesta, Iwan akan diberi tahu hidangan mana saja yang boleh disantap. Sebab, baik rekan maupun para romo menghargai keyakinan Iwan. Tidak jarang pula Iwan justru diingatkan oleh para rekan, juga para romo di Gereja Ganjuran, untuk segera menjalankan ibadah salat.

“Waktu salat, teman-teman malah menyuruh saya salat dulu, beribadah diutamakan. Romo juga mengingatkan,” ungkapnya.

Iwan menjalankan ibadah salat di ruangan khusus yang tersedia di belakang gereja. Selain itu, jadwal libur Iwan pun diberikan pada hari Jumat. “Kebetulan, setiap Jumat saya diberi libur. Tapi kalau pas ada Jumat masuk, izin untuk Salat Jumat. Ibadah nomor satu,” cetusnya.

Nah, lalu bagaimana Iwan melakoni pekerjaannya saat Ramadan? Ternyata saat Ramadan, jam kerja Iwan dikurangi. Jika hari biasa jam kerja dia pukul 06.00 sampai 14.00. Selama Ramadan, Paroki Gereja Ganjuran hanya memintanya bekerja sejak pukul 06.00 sampai 13.00. “Awal puasa dikasih libur 3-4 hari,” bebernya.

Sementara untuk berbuka dan sahur, Iwan harus mengolah sendiri. Ya, karena Iwan tinggal seorang diri di rumah yang disediakan Paroki Gereja Ganjuran. Sebab istri dan anak-anaknya tetap tinggal di Kebumen. “Saya diberi rumah sendiri, biar nggak bolak-balik, kan jauh Jogja-Kebumen,” ucapnya.

Terkait dengan pekerjaannya, Iwan pun mendapat dukungan penuh, terutama dari istrinya. “Saya sudah bilang ke anak dan istri. Jadi istri tahu. Kata istri sih asal kerja yang penting di jalan yang benar. Mau di mana pun pekerjaannya, yang jelas kerjanya baik dan jujur,” sebutnya.

Kalau untuk kepercayaan, Iwan mengaku sudah teguh dengan pilihannya sebagai seorang muslim. Perlakuan yang diterimanya di tempat pun membuatnya nyaman. Di mana itu justru memantapkan keimanannya.

“Hati saya untuk Islam. Saya biasa ngobrol dengan romo masalah pekerjaan. Kalau menyangkut agama, tidak pernah. Saya yakin, saya muslim, ya tetap muslim dan di sini juga menghargai muslim,” tuturnya. (laz/din/er) Editor : Administrator
#Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran