Pelepasan santri ditandai acara muwadaah (pamitan) yang bertepatan dengan malam ke-21 Ramadan kali ini. "Jumlahnya ada 3.500 santri, baik laki-laki dan perempuan," ucap pengasuh Ponpes Al Iman Bulus KH Hasan Agil Ba'abud kemarin (4/5).
Kiai yang akrab disapa Wan Hasan tersebut menyatakan, santri yang berasal dari luar kota harus dijemput keluarga atau pihak yang diutus keluarga. Hanya santri putra berumur lebih 15 tahun yang boleh pulang sendiri apabila tidak ada keluarga yang menjemput.
Santri yang berasal dari luar provinsi diizinkan pulang lebih awal. Yakni, pertengahan Ramadan.
Santri paling jauh berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). "Para santri dipulangkan karena sudah tidak ada kegiatan lagi di pondok. Sekaligus, memberi kesempatan para santri untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga di kampung halaman," jelasnya.
Wan Hasan menyatakan, para santri juga diwajibkan menjalani rapid test terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan pulang. Pelaksanaan rapid test dilakukan atas kerja sama pondok pesantren dengan Puskesmas Gebang.
"Para santri akan kembali lagi ke pondok pesantren pada 20 Syawal," ucapnya.
Diterangkan, Ponpes Al Iman Bulus sejauh ini sangat memperhatikan protokol kesehatan. Termasuk saat proses pemulangan santri di tengah pandemi Covid-19.
Semua kegiatan di pondok pesantren juga menerapkan protokol kesehatan ketat. Salah satunya yakni tidak memperbolehkan para santri keluar pesantren secara sembarangan.
"Setiap saat kami pesan kepada para santri untuk bisa menjaga nama baik pesantren dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Beberapa santri yang tetap menetap di pesantren beberapa santri senior," katanya.
Salah seorang santri senior Wahid Anwar, 26, mengungkapkan, tidak pulang kampung ke Kabupaten Kabumen. Bersama sekitar dua ratus santri lainnya, dia tetap menetap di pesantren.
"Kami merayakan Idulfitri di pondok. Rencana saya mau pulang ke Kebumen setelah Idulfitri," ungkapnya. (tom/amd) Editor : Administrator