Barongan ini berupa kreasi hewan berbentuk kerbau. Ini berbeda dengan barongan lain yang biasanya dibuat menyerupai harimau, singa, banteng, dan sapi.
Barongan kerbau tersebut dibuat oleh Putut Budi Santoso. "Barongan ini saya padukan dengan kain batik asyura yang dibuat khusus menjadi ikon Dusun Sembir. Barongan ini saya beri nama barongan mahesosyuro," katanya kemarin (25/8).
Dijelaskan, secara kebetulan barongan tersebut telah dijamas tepat pada malam 1 Suro lalu. Itu sebagai tanda untuk mengenalkan barongan mahesosyuro kepada khalayak.
Putut menyatakan, ide pembuatan mahesosyuro berangkat dari masa kecil nya. Di mana, pada saat-saat tertentu seperti bulan puasa atau Suro selalu ada atraksi barongan di Dusun Sembir.
"Saat itu barongan biasa berkeliling kampung dengan maksud mengusir ruh jahat. Meskipun, saat itu anak kecil jadi takut. Namun, banyak yang menirukan dengan membuat barongan kecil menggunakan bambu," jelasnya.
Pembuatan barongan kerbau rancangan Putut melibatkan perajin kayu bernama Trustoto, warga Desa Soko, Kecamatan Bagelen. Ada sembilan barongan yang diproduksi.
Barongan ini terdiri empat warna yakni hitam, merah, kuning, dan putih. Rencananya ditampilkan dalam tradisi kupatan 23 Juli lalu. Namun, urung dipertunjukkan karena penerapan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat pandemi Covid-19.
Menurutnya, barongan kerbau kreasinya bisa menjadi pengingat suasana pedesaan identik dengan kerbau yang dulu banyak dimanfaatkan untuk membajak sawah. Bahkan, berdasarkan sejarah Nyai Bagelen, ada kisah yang memunculkan keyakinan warga Kecamatan Bagelen tidak akan sukses memelihara sapi.
"Kisah itu kemudian ada semacam larangan anak-cucu Nyai Bagelen memelihara sapi. Atas dasar itu, berani memunculkan barongan kerbau agar tidak berbenturan dengan sejarah masa lalu di Bagelen," katanya.
Menurutnya, saat ini sudah jarang terlihat kerbau membajak sawah. Bahkan, sudah banyak warga Kecamatan Bagelen yang memelihara sapi atau hewan ternak lainya.
"Kerbau semakin hilang. Sementara dulu, kebiasaan angon kerbau, naik kerbau, bisa ditemui setiap saat. Kerbau sahabat petani. Kerbau juga simbol pekerja keras, kuat. Maka, saya memilih barongan kerbau ini," ujarnya.
Pembuatan barongan kerbau ini melibatkan perajin batik setempat yakni Lestari. Dia terkenal dengan nama batik asyura, yang diciptakan khusus untuk Dusun Sembir. Perpaduan dengan batik asyura menjadikan barongan kerbau berbeda dengan barongan daerah lain.
"Kami juga masih punya tradisi kupatan yang selalu rutin diselenggarakan saat menjelang bulan Suro. Secara filosofi, semuanya jadi nyambung. Terintegrasi secara ritual antara ketiganya, yang bisa dilakukan di setiap bulan Suro," ucapnya.
Putut berharap kreasi baru ini tidak hanya menjadi ikon Kecamatan Bagelen. Tapi, mampu menjadi ikon Kabupaten Purworejo.
"Barongan ini memiliki empat warna (hitam, merah, kuning, dan putih) sama dengan motif batik asyura dengan filosofinya empat arah mata angin. Harapannya ini bisa merangsang teman-teman seniman lain walau dalam kondisi apapun bisa tetap terus berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki," harapnya. (tom/amd/er) Editor : Administrator