Wahyu Kliyu identik dengan prosesi melemparkan camilan tradisional apem. Upacara adat ini sudah menjadi dilakukan turun temurun itu setiap 15 bulan Suro dalam kalender Jawa. Diadakan sebagai wujud rasa syukur warga Dusun Kendal Lor dan Dusun Kendal Kidul. Karena PPKM, peserta yang mengikuti acara dibuat secara bergiliran.
”Sebelumnya sudah berkoordinasi dengan tim satgas setempat. Untuk menghindari adanya kerumunan, prosesi lempar apem dibatasi dan atur jaraknya. Yang pertama untuk RT nomor genap. Setelah selesai, giliran di RT nomor ganjil,” terang Kepala Desa Jatipuro, Rakino.
Dalam Wahyu Kliyu ini, warga berharap pandemi segera berakhir.
”Acara tahun lalu belum ada PPKM. Kegiatannya juga sama, tapi tidak seketat tadi malam (kemarin),” ucapnya.
Bupati Karanganyar Juliyatmono yang saat itu hadir dalam proses tradisi Wahyu Kliyu mengungkapkan, pihaknya memberikan izin acara. Lantaran dari laporan yang dia terima, sebaran Covid-19 di wilayah tersebut sangat minim. Setelah dilakukan pemantauan, masyarakat Dusun Kendal tertib menggunakan masker.
”Tadi malam itu saya pantau langsung. Mayoritas mereka (masyarakat,Red) sudah memakai masker semua. Hanya saja memang kerumumannya masih sulit dikendalikan, tapi bagaimana wong itu acara tradisi berkerumun. Tapi pemerintah desa juga sudah menyiasati, masyarakat yang melakukan tradisi tersebut dilakukan secara bergantian. Di desa tersebut hanya satu orang yang terkena Covid-10, itupun tidak di dusun yang digelar kegiatan,” tegas Juliyatmono.
Bupati juga berpesan kepada masyarakat untuk tetap menerapkan 5 M. Mulai dari memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. (rud/adi) Editor : Administrator