Ya, terik matahari siang itu tidak menyurutkan semangat warga untuk menyaksikan. Haus hiburan selama pandemi, kelonggaran yang sudah mulai terasa pada PPKM Level 3 di Kabupaten Purworejo ini seolah seperti oase di padang pasir.
Sejak pagi, warga bahkan sudah menanti perhelatan yang seolah menghilang selama pandemi pada desarian dua tahun terakhir. Di beberapa titik rute jalan dilalui pawai, tua-muda, laki-laki dan perempuan seolah membentuk pagar betis.
Tak jarang warga juga ikut bersorak ketika kuda-kuda itu menari-nari dengan kedua kaki diangkat tinggi-tinggi. Kuda yang pandai menerima aba-aba sang pawang. Riuh suara marching band, berbaur dengan suara rebana bertalu-talu dan seruan shalawat membuat peringatan Maulid Nabi semakin semarak.
Warna-warni umbul-umbul atau lebih lazim disebut gagar mayang menambah suasana menjadi lebih hidup. Kuda-kuda gagah itu diberi nama bermacam-macam oleh sang pemilik atau sang pawang. Ada yang bernama Si Boy, Marfel, Al Saud, Kalagondang, hingga Joko Kendil.
Salah satu santri, Rakha Fadhil Athaya, 12, menaiki kuda Joko Kendil. Ini adalah kuda pengganti setelah sebelumnya kuda yang akan dinaiki gagal tampil karena mati. Ia mengaku senang meskipun tubuhnya nyaris terhempas ketika kuda tinggi besar itu beraksi menaikkan kedua kaki depannya. Setelah pawai naik kuda, malamnya khotmil Quran di Masjid Abdul Jalil. “Takut juga naik kuda karena kudanya bisa berdiri tegak gitu sambil jingkrak-jingkrak, tapi senang, bisa ikut memeriahkan Maulid Nabi," ucapnya.
Panitia kegiatan Alim Mutaqin menambahkan, pawai ta'aruf kali ini diikuti kurang lebih 300 peserta, acara dimulai pukul 13.00 hingga pukul 14.00. Dia juga menjadi wali santri yang telah berhasil mengkhatamkan Alquran. Sebagai wali santri saya tentu merasa bangga melihat anak sudah khatam Alquran. Semoga ini menjadi kenangan indah, ilmu yang didapat bisa menjadi modal dalam kehidupan. “Minimal sudah memiliki investasi akhlak bagi anak, berguna bagi dirinya dan orang lain," ucapnya.
Salah satu pawang atau pemilik kuda jingkrak, Teguh Arifin, 34, warga Cangkrep Lor, mengatakan, kudanya masih berumur 13 tahun, setiap saat dilatih agar bisa bereaksi dengan baik ketika disewa. Tarif sewa kudanya Rp 1,5 juta. Menaikkan performa kuda setiap pagi diberi jamu ramuan khusus yang terdiri dari telur ayam kampung, madu dan pil kuat. "Kuda jingkrak biasanya banyak disewa saat Rajab dan Rabiul Awal dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seperti sekarang ini," katanya. (tom/din/er) Editor : Administrator