Ketua panitia Pasar Budaya Fajar Ahmad Warintrioktama menjelaskan, kegiatan diawali dengan arak-arakan tumbeng berupa hasil bumi. Dilanjutkan dengan beragam pertunjukan kesenian dari enam dusun. Seperti kesenian kubro siswa madya, topeng ireng aji rimba, tari karangrejo gumregah hingga karawitan.
Menurutnya, budaya tidak hanya berasal dari para leluhur. Melainkan, dari kebiasaan masyarakat setempat yang dibuat bersama-sama. Dan akhirnya dikembangkan tanpa menghilangkan nilai para leluhur sebelumnya. Salah satu bentuk pengembangan kebudayaan di Desa Karangrejo adalah dolanan anak yang dijadikan tarian. “Tiap dusun punya kesenian, tapi untuk dolanan anak, kami mengkolaborasikan dari dua dusun,” ujarnya.
Kepala Desa Karangrejo Muhammad Heri Rofikun menambahkan, sebuah kebudayaan akan mendukung adanya objek wisata. Selain itu, kebudayaan ini dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di Desa Karangrejo. Dengan berbagai kebudayaan yang ada, pemdes telah mendeklarasikan Desa Karangrejo sebagai desa budaya. Sehingga Desa Karangrejo tidak hanya sebagai desa wisata.
Heri menuturkan, wilayahnya adala salah satu desa wisata yang menopang keberadaan Candi Borobudur. Dia mengumpamakan Candi Borobudur sebagai lampu dan setiap dusun di Desa Karangrejo sebagai lilin kecil. Lambat laun, laron yang ada di Candi Borobudur akan terbang menuju lilin-lilin kecil yang ada di Desa Karangrejo. “Riyayan Kabudayaan Karangrejo dapat terus berjalan setiap tahunnya,” harap Heri.
Direktur Jenderal (Dirjen) Kemdikbudristek Hilmar Farid yang turut hadir pada Pasar Budaya berharap kegiatan tersebut bisa terus dikembangkan. Telah menjadi desa wisata berbasis budaya, sudah sepatutnya seniman-seniman dihargai. Bukan hanya sebagai pajangan saja. “Tanpa adanya seniman di desa wisata berbasis budaya, ini tidak akan berjalan dengan lancar,” ungkap Hilmar.
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT) Budi Arie Setiadi menuturkan, Riyayan Kabudayan Karangrejo secara tidak langsung sangat berdampak pada aspek kebudayaan. Pasalnya, kebudayaan merupakan aspek penting dalam pembangunan karakter desa yang akan tumbuh subur.
Dia berharap, para wisatawan bisa tertarik untuk singgah ke desa yang letaknya 2,5 kilometer dari Candi Borobudur itu. Meski hanya sebentar. “Jangan sampai kemajuan Candi Borobudur yang dihadiri oleh begitu banyak wisatawan, warga desanya hanya menjadi penonton,” katanya.
Budi juga mengharapkan, adanya pembangunan yang partisipatoris. Yang mana warga desa harus terlibat dalam upaya memajukan dan pembangunan di Desa Karangrejo. “2023 diharapkan mampu menjadi desa mandiri,” tegasnya. (cr1/eno/er)