Perwakilan komunitas petani porang Kebumen Akif Fatwal Amin menjelaskan, nantinya porang tidak hanya dijual berupa umbi basah. Melainkan diolah menjadi produk turunan. Bersama komunitasnya, dia telah membidik negara tujuan ekspor, seperti Jepang, China, Vietnam, dan Thailand. "Kalau umbi basah normalnya 7-10 ribu per kilogram. Biar bernilai jual, kami rencana buat inovasi olahan," beber Akif, kemarin (21/12).
Dua tahun ini, kata Akif, diakuinya kran ekspor terkendala karena kondisi pandemi. Selama itu pula, petani porang memilih untuk menahn diri tidak menjual porang. Baik berupa umbi, maupun tepung. Hal ini juga dilakukan saat puncak panen 2020. “Mei-Agustus. Tapi ya itu, tidak tertarik dengan harga. Juga eksportir tidak leluasa mengambil porang," sambungnya.
Melandainya kasus Covid-19, diharapkan mampu membangkitkan kembali kegiatan ekspor porang. “Mudah-mudahan 2022 tanah air dan negara lain pandemi Covid-19 sudah berlalu," ucapnya.
Akif menuturkan, wilayah penghasil porang didominasi wilayah Kebumen bagian utara. Meliputi Kecamatan Karanggayam, Alian, dan Sadang. Meski begitu, dia bersama rekan lain mulai merambah di wilayah pesisir selatan. Seperti di wilayah Puring dan Petanahan. “Di sana juga bagus untuk tanaman apa saja," ujarnya.
Secara geografis, lanjut Akif, Kebumen termasuk wilayah yang mendukung untuk ditanami porang. Porang bisa tumbuh subur seperti umbi-umbian lainnya. Hingga kini, sudah sekitar 80 hektar lahan di Kebumen yang ditanami porang. Setiap kali musim panen secara bersamaan, mampu menghasilkan 200 ton porang. "Kondisi alam sebenarnya sangat mendukung. Tinggal hasil akhir pemasaran yang terkadang menjadi kendala," kata Akif. (cr2/eno/er)
Editor : Administrator