Berjarak kurang lebih 25 kilometer dari Bandara YIA, DIJ. Sumur Beji ramai didatangi oleh ratusan warga, kemarin (9/1). Ternyata, warga menggelar kirab budaya dan kenduri agung. Usai proses pembangunan lingkungan Sumur Beji Desa Soko selesai dilakukan.
Pembangunan, diproyeksikan agar Sumur Beji menjadi destinasi wisata andalan desa setempat. Warga sangat bersemangat menggelar ritual laik menjadi sajian wisata yang hebat. Kirab dimulai dari rumah Ketua RT 1 RW 03, Dusun Legok dengan membawa tumpeng lengkap dengan ingkung dan buah-buahan.
Warga juga membawa batu hitam besar serupa prasasti yang akan diletakkan sebagai tanda pembangunan Sumur Beji telah selesai. Musik gamelan khas Jawa mengalun ritmis, menyambut iring-iringan warga. Aneka hidangan kemudian diletakkan di suatu tempat yang telah disediakan. Setelah didoakan oleh tetua, kemudian disantap bersama-sama.
Prosesi peletakan batu pertama itu lengkap dihadiri sejumlah tokoh masyarakat desa. Termasuk donatur pembangunan yaitu keluarga Nicolas Legowo dari Plaosan, Baledono. Dukungan kepada masyarakat Soko untuk bangkit nguri-uri budaya dan kelestarian alam bukan tanpa alasan.
Nicolas memiliki tradisi sedekah air berupa bantuan air bersih tangki. Namun kali ini, pola sedekahnya diubah. Dengan menjaga sumber air yang sudah ada. “Agar kelestarian air bisa tetap terjaga," tuturnya saat ditemui di sela kegiatan.
Baginya, Desa Soko memiliki keunikan tersendiri. Seperti Sumur Beji yang di sekitarnya ditumbuhi bunga Soko. Sejarah lisan menyebut, bunga ini sudah tumbuh sejak abad ke-7. Atau di zaman Kerajaan Kalingga 674-695 Masehi. “Sering digunakan minum dan mandi oleh para prajurit yang sakit. Untuk mendapatkan kesembuhan dan sehat kembali atas izin Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya.
Ke depan, direncanakan pagar dengan nuansa Majapahit akan turut dibangun. Karena akar pohon yang tumbuh di dekat sumur sudah melebar ke mana-mana. Maka perlu dibuatkan pondasi dengan teknik balok gantung. Agar tidak merusak alam atau akarnya. "Ini warisan leluhur yang harus dilestarikan, terlebih ini adalah sumber mata air yang tak lain adalah sumber kehidupan," sambungnya.
Budayawan sekaligus tokoh masyarakat Desa Soko Warsito Hadi menambahkan, sumber mata air di sumur tidak pernah kering. Meskipun saat kemarau panjang. Memiliki nama asli Beji Lembah Soko, sumur Beji menjadi cikal bakal nama Desa Soko. “Nama Soko, diambil dari pohon bunga Soko yang ada dan tumbuh di Sumur Beji tersebut,” lanjutnya.
Ada empat pohon bunga Soko yang tumbuh dengan baik di Desa Soko itu. Bagi Warsito, hal ini harus dilestarikan. Generasi muda, tidak boleh kehilangan akar sejarah Desa Soko. Yang memiliki peninggalan sejarah, dan harus tetap terawat. “Mereka harus memahami sejarah agar tahu jati dirinya," ujarnya.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo Dyah Woro Setyaningsih menyatakan, Sumur Beji Soko akan memperkaya potensi kebudayaan Purworejo. Terlenbih masyarakat yang mulai terbuka. Bahwa tradisi budaya yang ada, layak untuk dipromosikan secara luas. Bahkan bisa menjadi destinasi wisata yang sangat potensial.
Meski demikian, warga perlu dukungan dari berbagai pihak termasuk dari dinas untuk bisa menggali lebih dalam potensi budaya Desa Soko. Kemasan budaya yang dihelat bisa diagendakan rutin. Sehingga dinas bisa menggerakkan biro perjalanan untuk ikut mengenalkan dan membantu promosi. “Ke khalayak luar, sebagai sebuah destinasi wisata,” bebernya. (eno) Editor : Administrator