Proyek pembangunan jalan tol Jogja-Bawen berdampak pada kehidupan warga. Membuat pemerintah mau tidak mau harus merelokasi tempat yang menjadi naungan mereka. Meski bakal ada uang ganti untung, namun relokasi tersebut tentu memberi dampak besar bagi para warga. Mereka pun harus mencari tempat tinggal baru.
Keguyuban dan keharmonisan para warga terpaksa hilang lantaran nantinya mereka akan menempati tempat tinggal baru yang berbeda-beda. Melihat kenyataan itu, As’ari tergerak untuk menghibahkan empat hektare tanah miliknya.
Ia ingin tanahnya itu dibangun permukiman warga Dusun Diwak, Desa Karangkajen yang terdampak pembangunan tol. Nantinya, tanah tersebut akan dibangun untuk permukiman 75 keluarga dengan total lebih dari 500 orang. Tak hanya itu, di sana akan dibangun kandang ternak sebagai pekerjaan sampingan warga.
Menurutnya, meski mendapat ganti untung banyak, belum tentu dapat menjamin kehidupan warga selanjutnya. "Terutama dampak ekonomi dan sosial. Tidak mungkin uangnya cukup untuk memenuhi kebutuhan kalau tempat mereka mencari uang ikut terdampak," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (18/3).
Selama puluhan tahun hidup berdampingan dan bertetangga, pria 60 tahun ini mengetahui betul kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, dengan warga yang sebagian besar hanya bekerja sebagai serabutan, tidak akan mampu menjamin kehidupannya dalam jangka waktu yang panjang.
Ia mengaku kasihan dan prihatin. Jika mereka pindah ke tempat yang baru, praktis akan menyesuaikan dengan lingkungannya. "Saya juga kasihan kepada mereka yang hanya punya satu petak tanah, juga satu-satunya menjadi tempat tinggalnya. Kalau pekerjaannya mapan, tidak masalah, kalau tidak, mereka juga kesusahan cari lahan baru," bebernya.
Rumah dan tanah milik As'ari pun ikut terdampak tol. Setidaknya ada lebih dari 20 petak tanah miliknya yang terpaksa harus dicarikan tempat pengganti. Terlebih, para warga Dusun Diwak mengaku keberatan jika harus tinggal di lingkungan yang berbeda.
Akhirnya, ia rela menghibahkan tanahnya kepada mereka karena dianggap telah menjadi keluarga besar Dusun Diwak. "Saya mau pindah kemana pun, mereka mau ikut. Ini jadi beban bagi saya. Mereka tetap ingin tinggal dalam satu kampung dan menjadi keluarga besar Dusun Diwak," jelas bapak dua anak ini.
Ia pun sempat ditawari untuk memakai tanah bengkok milik desa. Namun, warga juga merasa ragu. "Kalau saya mau, mereka juga mau. Kalau tidak, mereka takut kalau ada masalah, siapa yang akan melindungi," imbuhnya.
Lantas, ia menawarkan kepada warga untuk menempati tanah miliknya yang tidak begitu luas. Mereka kompak setuju dan ingin tinggal di sana. Itulah yang membuat As'ari berinisiatif untuk menghibahkan tanah yang berjarak 600 meter dari Dusun Diwak itu. Bahkan, ada beberapa tanah milik warga lain yang ikut dibeli agar semua tanah di sana menjadi miliknya.
Sejak Agustus 2021, setiap harinya, akan ada warga yang kerja bakti membersihkan calon lahan mereka. Bahkan, setiap hari Minggu, semua warga Dusun Diwak tumpah ruah dalam satu lokasi ikut membersihkan tanah tersebut. "Menolong orang tidak ada salahnya. Kami semua sudah terbiasa kalau ada kesusahan, saling melengkapi," ujarnya.
Kendati sudah ikhlas melepas empat hektare tanahnya untuk warga, mereka bersikukuh tetap membayar lahan yang akan ditempati. Dia pun tidak menarget soal harga. Bahkan, sedari awal, tujuannya memang memberikan tanah itu secara cuma-cuma. Namun, para warga yang tidak berkenan.
Mendengar itu, As'ari juga enggan memaksa. Para warga merasa, tanah itu nantinya bakal ditempati untuk jangka waktu yang panjang. Setelah disepakati bersama, warga akan tetap membayar sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. "Saya tidak mematok harga, awalnya kan memang gratis. Tapi, terserah mereka, kalau maremnya seperti itu, ya monggo," papar mantan kepala desa periode 1989-2010 itu.
Ia juga sadar betul, dengan kondisi rumah warga yang bisa dibilang masih kurang, nilai appraisal juga tidak akan tinggi. Pemerintah juga mempunyai standar tertentu untuk mematok harga. Katanya, kalau mereka mau pindah, harus pindah ke mana.
As'ari menambahkan, untuk mencari lahan baru pun, tidak akan selesai dalam satu maupun dua hari. Dengan uang ganti untung yang didapat, praktis setiap hari juga akan berkurang untuk menghidupi kebutuhan masing-masing. Semakin mantap pula ia memberikan tanahnya. Tanah pun akan dibagi setelah diratakan. Masing-masing keluarga akan mendapat luasan minimal 150 meter persegi. Tergantung luasan tanah mereka sebelumnya.
Nantinya, bentuk permukiman tidak akan disamakan dengan perumahan. Hal ini lantaran kondisi masyarakat pedesaan yang notabene punya ternak. "Ada 50 persen warga di sini, luasan tanahnya kurang dari 100 meter persegi. Jadi, dengan pembagian minimal 150 meter persegi, akan memberikan peluang kepada mereka untuk beternak," katanya.
Selain itu, masing-masing warga juga dibebaskan untuk membangun permukiman mereka. Sesuai selera masing-masing. As'ari tidak akan mengatur itu. "Saya tidak mau jadi fitnah. Saya tidak mau ikut campur, tidak mau intervensi mereka. Biarlah mereka mandiri," sambungnya.
Nantinya, ia juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait soal sertifikat hak milik tanah warga. Ia berharap, administrasinya akan dipermudah. "Nanti koordinasi dengan pemerintah, kalau bisa ikut program tata ruang kuning, biar bisa dipecah-pecah," kata As'ari. (pra) Editor : Administrator