Kepala Dinas Pertanian Pangan dan kelautan (DPPKP) Purworejo Hadi Sadsila menyebutkan, sistem tersebut merupakan sistem penanaman padi yang dilakukan dengan mengatur jarak antar benih. "Alhamdulillah, para petani yang sudah menerapkan sistem tersebut jumlah produktivitas padinya meningkatkan sekitar 10-15 persen dibandingkan dengan sistem tradisional," katanya, kemarin (3/7).
Salah satu petani yang sudah menerapkan itu yaitu di Desa Tanjung, Kecamatan Ngombol. Dikatakan, biasanya dengan sistem tradisional petani hanya meraih panen padi sekitar 12 ton per hektar. Tetapi dalam tiga bulan panen, para petani di Desa Tanjung produksi padinya meningkat hingga 14 ton per hektar dalam sekali panen.
Dia menyebutkan, keberhasilan sistem tanam jajar legowo tidak terlepas peran dari penyuluh di Kabupaten Purworejo. Seperti diketahui, untuk mensosialisasikan sistem tersebut DPPKP Purworejo menggelar Sekolah Lapangan (SL) bagi para kelompok tani di Kabupaten Purworejo. Yakni, ada 25 kelompok tani dari 21 desa yang ada di Purworejo yang mengikuti SL tersebut.
Pejabat Fungsional DPPKP Purworejo Hartoyo menyebutkan, luas tanaman padi di Kabupaten Purworejo ada sekitar 30 ribu hektar. Dari ribuan hektar tersebut sebanyak 30 persen sudah menerapkan sistem tanam Jajar Legowo di antaranya, petani di Kecamatan Bener, Loano, Kutoarjo, Kemiri, Ngombol, Purworejo, Gebang, dan Bayan.
Program SL tersebut, kata dia, juga didukung oleh International Fund for Agricultural Development disingkat (IFAD). Tujuan utamanya untuk menyediakan pendanaan dan menggerakkan sumber tambahan untuk program yang khusus dirancang untuk pengembangan ekonomi wilayah miskin. “Terutama dengan mengembangkan produktivitas agrikultural," kata dia.
Dia berharap kelompok tani lainnya juga dapat mengikuti dan menerapkan sistem tersebut. Harapannya, produktivitas petani dapat meningkat sehingga kesejahteraan petani di Purworejo juga dapat meningkat. (han/pra)