Selain sembako, pasar tiban tersebut juga menyediakan hewan ternak, sayuran, buah-buahan, hingga aneka jajanan kuliner. Dagangan di pasar tiban dijual di bawah harga pasaran agar terjangkau oleh semua kalangan. Benar saja, pasar tiban diserbu masyarakat dan mereka sangat antusias.Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan kembali setelah pandemi. Biasanya kami selenggarakan setahun sekali, tetapi pandemi kemarin sempat vakum. “Hanya untuk masyarakat. Earga gereja tidak boleh membeli," kata Pendeta GKJ Purworejo Lintang Anggraeni.
Lintang menjelaskan, pentakosta itu menghayati turunnya roh kudus yang akan menolong kehidupan umat, lalu juga perayaan unduh-unduh, atau hari raya panen. Kegiatan pasar tiban sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan banyak rezeki sepanjang tahun ini.
Salah satu warga Desa Lugosobo, Gebang Neti, 42 mengakui bahwa harga dagangan di pasar tiban tersebut sangat terjangkau dari harga pasaran. Momennya juga pas, mengingat saat ini harga kebutuhan pokok juga banyak yang mahal."Dagangannya variatif. Tadi saya belanja sembako, murah. Bisa membantu kebutuhan masyarakat yang saat ini banyak yang mahal," kata dia.
Dia berharap, kegiatan semacam itu akan terus diagendakan setiap tahun. Dengan begitu, masyarakat dapat terbantu terlebih bagi masyarakat yang perekonomiannya sedang terpuruk. (han/din)