RADAR PURWOREJO – Jembatan Pucunggrowong di Kalurahan Karangtengah, Imogiri, Bantul sudah rusak selama lebih dari satu tahun. Jembatan itu rusak akibat diterpa hujan dengan intensitas tinggi selama akhir 2022. Namun sampai saat ini, belum ada perbaikan dari pemerintah daerah.
Lurah Karangtengah Haryanto mengungkapkan, kerusakan jembatan meliputi retaknya sayap di sebelah timur. Sehingga jembatan itu tidak bisa digunakan. Warga pun kemudian berswadaya membuat jembatan sementara dari bambu, tak jauh dari jembatan utama.
Hanya saja, jembatan sementara itu hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Sementara kendaraan roda empat harus memutar sejauh lima kilometer lewat Sriharjo. “Biaya jembatan yang sementara dari bambu itu perkiraan di angka RP 15 juta,” jelas Haryanto saat dihubungi kemarin (31/1).
Dia menjelaskan, jembatan itu sudah berusia lebih dari 20 tahun. Dan sebelumnya, belum pernah rusak. Jembatan ini pun merupakan akses utama yang menghubungkan sejumlah wilayah. Seperti Karangtengah, Karangrejek, Sriharjo, Srikeminut, hingga Girirejo. Terhambatnya aktivitas perekonomian ini cukup terasa mengingat banyak destinasi wisata di kawasan tersebut.
“Infonya belum akan dibenahi tahun ini. Katanya anggaran tahun ini tapi belum tahu kejelasannya,” sesalnya.
Setelah jembatan tersebut rusak, pemerintah kalurahan telah melaporkannya kepada bupati, dewan, dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul. Bahkan Bappeda dan DPUPKP Bantul telah melakukan survei ke jembatan tersebut.
Haryanto mengatakan, jembatan tersebut memang tidak diperbaiki pada tahun lalu. Karena anggaran dari DPUPKP sudah diplot untuk hal lain. “Semestinya sudah dianggarkan tahun ini tapi kami belum komunikasi dengan DPUPKP dan Pak Bupati. Apakah sudah disiapkan di tahun ini apa belum itu kami belum tahu,” lontarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Bantul Eka Budi Santosa mengatakan, pihaknya sebenarnya ingin mengajukan penanganan Jembatan Pucunggrowong di tahun ini. Namun saat mengisi usulan rencana pembangunan pada 2023 lalu, anggarannya belum cukup.
Kemudian di tengah perjalanan, anggarannya banyak dirasionalisasi. “Sehingga kami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran untuk jembatan itu karena butuh biaya yang banyak,” ungkapnya.
Eka menjelaskan, setelah ada alokasi anggaran, pihaknya melayangkan surat kepada bupati untuk meminta tambahan anggaran. Namun hingga saat ini belum direspons. Maka dari itu belum bisa teranggarkan. Dinasnya pun juga pernah melakukan survei ke jembatan tersebut. Dari hasil pemantauan, jembatan tersebut harus diganti total. “Dari perhitungan tahun kemarin biayanya sekitar Rp 4 miliar untuk mengganti jembatan itu,” katanya.
Dia menyebut, Pemkab Bantul di tahun ini hanya mengalokasikan penanganan Jembatan Bantulan di Kapanewon Sanden dan Jembatan Mriyan di Kapanewon Kretek. Dengan anggaran masing-masing Rp 600 juta sampai Rp 700 juta dari APBD Bantul 2024. Sementara menurut Eka, tidak ada anggaran perawatan jembatan di tahun ini. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova