Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ini Sejarah Soto Tauto Khas Pekalongan yang Memikat Lidah Wisatawan

Alia Nur Azizah • Senin, 26 Februari 2024 | 17:23 WIB
LEZAT: Tauto Pekalongan yang memiliki ciri kuah berwarna merah.
LEZAT: Tauto Pekalongan yang memiliki ciri kuah berwarna merah.

RADAR PURWOREJO – Indonesia punya keberagaman varian soto menjadi kekayaan kuliner yang tak terhingga. Makanan khas menawarkan pengalaman cita rasa yang beragam dari satu daerah ke daerah lainnya.


Di Pekalongan, Jawa Tengah, terselip sebuah keunikan dalam soto yang membuatnya berbeda dari soto pada umumnya.


Hidangan yang dimaksud adalah tauto, nama tersebut singkatan dari tauco soto.

Kombinasi cita rasa tauco dengan kehangatan soto menciptakan pengalaman kuliner yang unik dan tak terlupakan.


Tauto, hidangan khas Pekalongan, merupakan perpaduan dua kebudayaan kuliner dari Tionghoa dan India.


Tauco memainkan peran kunci dalam memberikan kekhasan pada kuah soto.

Tidak hanya menambahkan kekentalan pada kuah soto. Tapi, juga memberikan nuansa merah yang khas, menciptakan perpaduan rasa yang unik dan membedakannya dari soto-soto pada umumnya.


Tauco dapat ditemukan di berbagai warung pinggiran jalan sepanjang jalur Pantura, pusat kota, bahkan pedagang keliling dari kampung ke kampung.


Yuk, simak sejarah dari soto tauco khas Pekalongan.


Dikutip dari website vickyfahmi.com, Tauto hadir di Pekalongan hampir bersamaan dengan kedatangan imigran dari China.

 

Sekitar abad ke-17, orang-orang China berbondong-bondong datang ke Pulau Jawa dan membuat perkampungan di pesisir. Salah satunya adalah kota Pekalongan.

Mereka terbiasa masak makanan seperti sop yang berisi soun, mi yang berwarna putih. 


Saat itu, terdapat perkampungan lain yang dihuni oleh imigran berasal dari India. Imigran India terbiasa makan daging kerbau yang dibumbui oleh tauco.

Sebab itu, orang-orang China meniru masakan tersebut dengan menambahkan sop soun.


Sop India hasil dari percampuran dengan sop soun ini kemudian disebut dengan “caodo”.

“Cao” yang berarti rempah-rempah dan “do” yang berarti jeroan.


Caodo lalu dijual oleh orang China dengan cara berkeliling kota Pekalongan, dari kampung ke kampung, termasuk ke kampung orang Jawa.


Lalu, orang Jawa tertarik saat melihat penjual China yang sedang berjalan sambil memikul dagangan sop caodo. Logat Jawa menyebut “caodo” sebagai “soto”.


Karena hanya di Pekalongan orang-orang memasak soto menggunakan tauco.


Beberapa tahun kemudian, orang Jawa yang makan tauto menjadi lebih banyak daripada orang India.


Saat terjadi pergeseran mata pencaharian penduduk, orang-orang beternak sapi daripada kerbau yang mengakibatkan tauto yang dulu dimasak memakai daging kerbau dan sekarang menggunakan daging sapi.

Kamu pernah makan tauto? Kalau kamu mampir ke Pekalongan, pastiakn untuk mencicipi tauto ini, ya! (Alia Nur Azizah)

Editor : Amin Surachmad
#kekayaan kuliner #pekalongan #soto tauco