RADAR PURWOREJO – Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, bulan suci Ramadhan menyimpan beberapa momen kultural yang khas dan menjadi tanda keistimewaan bulan suci ini.
Momen kultural yang hanya ada dalam bulan Ramadhan selain ibadah tarawih berjamaah adalah menyantap sahur dan menyediakan takjil jelang berbuka puasa.
Ibadah sahur, umumnya dilakukan di akhir waktu guna memperpendek jarak berpuasa menahan nafsu, lapar dan haus.
Sementara itu, takjil umumnya disediakan di masjid-masjid secara gratis atau dibagikan di tepi jalan bagi kaum muslimin yang sedang dalam perjalanan.
Namun tahukah kamu, dari mana asal muasal takjil yang kini menjadi kultural di bulan Ramadhan?
Ya, mungkin masih banyak yang tidak mengetahui asal-usul tradisi takjil di Indonesia.
Untuk lebih lengkapnya, berikut penjelasan dan sejarah ringkas mengenai asal-usul tradisi takjil di Indonesia, yang ternyata dipopulerkan oleh Muhammadiyah.
Mengutip informasi dari laman Muhammadiyah.or.id, Jumat (29/3), istilah takjil diambil dari hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.
"Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan (ajjalu) berbuka”.
Tradisi takjil pada awalnya hanya dikenal sebagai penyegar saat berbuka puasa. Namun, kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam kegiatan berpuasa Ramadan. Terutama di Indonesia.
Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memainkan peran signifikan dalam mempopulerkan tradisi takjil dengan menyediakannya secara gratis di masjid-masjid dan di berbagai tempat lainnya selama bulan suci Ramadan.
Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan meriah.
Istilah "menyegerakan" dalam hadis tersebut memiliki medan semantik ajjala - yu'ajjilu - ta'jilan. Yang artinya momentum, tergesa-gesa, menyegerakan, atau mempercepat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kakjil diistilahkan sebagai makanan untuk berbuka puasa yang disegerakan.
Meskipun takjil sudah menjadi bagian dari kebudayaan setiap bangsa Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebelum Muhammadiyah lahir, catatan sejarah menunjukkan bahwa praktik takjil telah ada dalam budaya lokal sejak lama.
Sebagai contoh, Snouck Hurgronje dalam laporannya setelah mengunjungi Aceh pada tahun 1891-1892 mencatat bahwa masyarakat setempat sudah biasa mengadakan buka puasa (takjil) di masjid secara beramai-ramai dengan makanan seperti bubur pedas.
Ada juga catatan yang belum terkonfirmasi mengenai takjil sebagai medium dakwah para Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Meskipun takjil diakui sebagai bagian dari perintah Nabi dan diadopsi dalam berbagai budaya yang berbeda, pada masa itu, takjil hanya merupakan kebudayaan lokal dan belum menjadi kebudayaan populer.
Profesor Munir Mulkhan dalam bukunya yang berjudul Kiai Ahmad Dahlan Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010) mencatat bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dalam mempopulerkan takjil beserta seremoni kultural lain di dalam Ramadhan.
Selain menyediakan takjil, Muhammadiyah juga turut menggalakkan kegiatan-kegiatan kultural lainnya.
Seperti mengakhirkan sahur dan menyelenggarakan acara-acara khusus pada momen hari besar keagamaan Islam lainnya.
Ini menandakan kontribusi signifikan Muhammadiyah dalam memasyarakatkan tradisi-tradisi Ramadhan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan serta kemanusiaan dalam masyarakat.
Munir mencatat bahwa Muhammadiyah, sebagai gerakan tajdid, mempopulerkan tradisi mengakhirkan makan sahur menjelang waktu subuh tiba dan menyelenggarakan takjil untuk mendorong kaum muslimin berbuka.
Meskipun upaya ini serupa dengan semangat pembaharuan Kiai Ahmad Dahlan, yang pada masanya ditentang oleh kelompok tradisional dan bahkan Kiai Dahlan pernah dituduh sebagai "Kiai Kafir", Muhammadiyah juga dihadapkan pada persepsi miring terkait upaya mereka dalam mempopulerkan tradisi takjil dan mengakhirkan sahur.
Meskipun demikian, cara Muhammadiyah memenuhi ibadah puasa di atas waktu tersebut kini telah menjadi tradisi puasa bagi semua warga muslim di Indonesia.
Untuk menarik minat jamaah Muhammadiyah, tradisi berbagi takjil dan berbuka puasa bersama di masjid dijadikan sebagai media dakwah.
Itulah penjelasan singkat mengenai tradisi Takjil yang populer pada momen bulan Ramadhan.
Artikel ini memberikan informasi mengenai sejarah singkat asal-usul tradisi Takjil di Indonesia, disadur dari website Muhammadiyah.or.id yang menjelaskan bahwa organisasi Muhammadiyah yang mempopulerkan tradisi ini di Indonesia. (Alia Nur Azizah)
Editor : Amin Surachmad