RADAR PURWOREJO - Mendengar kata 'Golok', yang ada dibenak sebagian besar orang adalah sebuah alat atau benda tajam yang digunakan untuk membelah atau memotong. Kali ini berbeda, Golok merupakan salah satu nama desa di Kecamatan Banyuurip, Purworejo.
Kepala Desa Golok Eko Surahmanto menuturkan, asal usul Desa Golok ada dua versi. Pun, masyarakat Desa Golok mempercayai kedua versi tersebut. Pertama, para sesepuh atau nenek moyang zaman dulu di wilayah tersebut saat melakukan babat alas senjata yang digunakan adalah golok.
"Senjata golok tersebut merupakan golok sakti. Setelah alas dibabat dan dibakar jadilah desa. Untuk mengingat-ingat adanya desa itu, yakni dibabat menggunakan senjata golok, maka diberi nama Desa Golok," bebernya Kamis (28/3).
Versi lain, sejarah Desa Golok memiliki keterkaitan sejarah dengan lingkungan atau desa sekitar. Konon ada seorang putra raja dari Kerjaan Majapahit yaitu Pangeran Joyokusumo. Karena memiliki kebiasaan yang tidak baik yakni berjudi, sang pangeran diusir oleh raja dan mengembara ke arah barat.
Tak terima dengan perlakuan ayahnya, adik perempuan Pangeran Joyokusumo mengikuti kakaknya sampai ke wilayah Banyuurip. "Dulu wilayahnya masih hutan belantara. Saat itu adik pangeran kehausan sehingga minta minum," kata dia.
Karena tidak ada air, akhirnya Pangeran Joyokusumo memohon kepada yang sang Pencipta dengan dengan menancapkan kerisnya di tanah agar keluar air. Benar saja, setelah ditancapkan keluar air. "Airnya mancur. Adiknya terheran-heran ada air kok bisa hidup. Makanya dinamakan Desa Banyuurip (air hidup)," ungkapnya.
Singkat cerita, saat itu Pangeran Joyokusumo memilik rencana ingin membuat sebuah wilayah atau kerajaan. "Kerajaan kan punya bala tentara atau prajurit. Para prajurit itu sering berlatih, dulu istilahnya nggegolo (latihan). Akhirnya, desa ini dinamai Golok dari kata nggegolo. Tempat untuk berlatih para prajurit," lanjut dia.
Disebutkan, di dekat Desa Golok persis juga ada Dusun Sidan yang terletak di Desa Sokowaten. Konon, tempat itu menjadi tempat para prajurit untuk beristirahat setelah berlatih. "Dusun Sidan menjadi tempat untuk istirahat sambil mengintip musuh,” lanjutnya.
Sehingga diberi nama Dusun Sidan dari kata singidan yang berarti mengintip musuh dengan cara bersembunyi. “Di sana tempatnya memang agak rendah," sambungnya.
Selain Dusun Sidan, Desa Golok juga berdekatan dengan Dusun Bintaran, Desa Candisari, Banyuurip. "Konon tempat itu menjadi tempat para prajurit berpangkat bintara, sehingga diberi nama Dusun Bintaran dari kata bintara," sebutnya.
Eko mengungkapkan, Desa Golok memiliki potensi di bidang pertanian khususnya padi. Desa dengan luas lahan 113 hektare tersebut, 80 hektare di antaranya merupakan sawah. "Dulu sekitar tahun 70-an produk jeruk sempat maju dan terkenal di Golok, tapi karena diserang virus akhirnya tidak berlanjut. Sekarang padi," ujarnya.
Disebutkan, jumlah penduduk Golok tidak banyak dan tersebar di tiga dusun. Yaitu Dusun Krajan 1, Krajan 2, serta Golok Kulon. Dengan jumlah penduduk sekitar 737 jiwa atau 250-an KK. "Penduduk kami sebagian besar adalah petani dan pedagang," tandas Eko. (han/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova