Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Ustaz Mahdi, Bangun Masjid seperti Kelenteng di Magelang, Mualaf sejak Usia 10 Tahun, Nama Diberi Habib Muhammad bin Hasan Alaydrus

Heru Pratomo • Minggu, 14 April 2024 | 15:00 WIB
UNIK: Bangunan Masjid Al Mahdi yang terletak di Jalan Delima, kompleks perumahan Armada State, Magelang Utara ini memiliki arsitektur bergaya Tionghoa.
UNIK: Bangunan Masjid Al Mahdi yang terletak di Jalan Delima, kompleks perumahan Armada State, Magelang Utara ini memiliki arsitektur bergaya Tionghoa.

 

 

 

RADAR PURWOREJO - Di Kota Magelang, ada bangunan masjid yang memiliki gaya arsitektur khas kelenteng. Berwarna merah terang dengan aksen kuning. Masjid itu bernama Al Mahdi. Bangunan tersebut cukup unik dan mencolok dibanding masjid lainnya. Di balik berdirinya masjid tersebut, ada cerita menarik dari pemiliknya yang merupakan seorang seorang mualaf bernama Mahdi.


NAILA NIHAYAH, Magelang


Dari jauh, tampak bangunan berwarna merah dengan aksen kuning yang berdiri kokoh. Tepatnya di tepi Jalan Delima, kompleks perumahan Armada State, Magelang Utara, Kota Magelang. Sekilas, bangunan tersebut serupa kelenteng. Lantaran arsitektur yang digunakan kental dengan bangunan milik warga Tionghoa tersebut.


Hal itu juga didukung dengan sejumlah ornamen berupa lampion merah yang menggantung di sejumlah titik. Namun faktanya, bangunan tersebut bukan sebuah kelenteng. Melainkan tempat ibadah umat Islam, yakni masjid. Namanya Masjid Al Mahdi.


Masjid itu berdiri kokoh di atas tanah yang diwakafkan oleh seorang mualaf bernama Kwee Giok Yong. Adapun lahan yang digunakan seluas 290 meter persegi dan diresmikan pada 1 Agustus 2016. Sedangkan bangunan masjidnya berukuran 9,5 meter x 10,5 meter.


Kendati bangunannya lekat dengan khas Tionghoa, tapi nuansa Islami baru terasa saat memasuki masjid. Pada bagian dinding dan mimbar, terdapat dekorasi kaligrafi. Pun dengan beberapa poster Islami.


Dengan luas bangunan yang tidak seberapa itu, masjid ini hanya mampu menampung sekitar 110 jemaah. Namun, ketika salat Jumat, jemaahnya bisa membludak dan terpaksa salat di selasar dan teras masjid. Atau sekitar 250 jemaah.
Masjid serupa kelenteng itu, ada cerita yang penuh perjuangan dari seorang pria keturunan Tionghoa bernama Kwee Giok Yong. Nama masjid yang dibubuhkan itu, sebetulnya merupakan nama yang saat ini digunakan oleh Kwee Giok Yong.


Nama Al Mahdi merupakan pemberian dari Habib Muhammad bin Hasan Alaydrus. Seorang ulama kondang yang telah menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat pada 17 Ramadan. Saat itu, Kwee Giok Yong masih berusia 10 tahun.
Namun, pria yang memiliki nama Indonesia Budi Suroso itu lebih senang jika dipanggil Mahdi. Sebab, Mahdi mengandung makna yang baik. Artinya orang yang mendapat hidayah atau petunjuk. Hingga saat ini, masyarakat lebih familier dengan nama Ustaz Mahdi.


Dia menceritakan, perjuangannya memeluk agama Islam tidaklah mudah. Apalagi di tengah keluarga yang memiliki darah Tionghoa. Mahdi pun tidak mendapat paksaan dari siapapun untuk menjadi seorang muslim. "Murni karena mendapat hidayah dari Allah SWT," lontarnya saat ditemui.
Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak di bilangan Jakarta, ia kerap bermain dengan anak seusianya yang mayoritas beragama Islam. Begitu terdengar azan Magrib, teman-temannya pulang dan segera pergi ke masjid untuk mengaji sampai Isya.


Mahdi merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Saat itu, dua saudaranya sudah memeluk agama Islam terlebih dahulu. Kakaknya diberi nama Taufik dan Hidayah. "Waktu TK, saya mulai belajar membaca Alquran. Akhirnya saya berusaha mencari tahu lebih dalam (soal Islam)," kenangnya.
Tanpa dorongan dari siapapun, ia lantas mengucapkan dua kalimat syahadat pada 17 Ramadan. Dia mendapatkan nama Mahdi saat duduk di bangku kelas 4 SD oleh almarhum gurunya, Habib Muhammad bin Hasan Alaydrus. Barulah dia belajar lebih dalam mengenai Islam.


Selama memeluk agama Islam, tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk membangun masjid. Namun, karena ada rezeki berlebih, ia memutuskan untuk mewakafkan tanahnya agar dibangun masjid. Bangunan yang sengaja dirancang orientalis itu, kata dia, sebagai bentuk mensyiarkan agama Islam. "Kenapa saya memilih model (bangunan masjid) khas Tionghoa? Karena saya sendiri generasi ketiga dari keturunan Tionghoa," paparnya.


Sementara beberapa ornamen lampion yang menggantung di masjid itu, menjadi unsur pelengkap dari bangunan tersebut. Lebih-lebih, selama ini tidak ada syarat khusus terkait dengan bentuk bangunan masjid. Bahkan, masjid di luar negeri pun memiliki kekhasan tersendiri. Lantaran ingin mengadopsi kearifan lokal.(aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#tionghoa #Ustaz Mahdi #masjid #Masjid Al Mahdi #Magelang