RADAR PURWOREJO – Telaga Sarangan merupakan destinasi wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun nasional di daerah Magetan, Jawa Timur.
Terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), lokasinya berada di Jalan Raya Telaga Sarangan, Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Selain pemandangannya yang menawan, ternyata ada mitos di balik keindahan Telaga Sarangan.
Salah satu mitos yang berkembang adalah tentang adanya dua naga besar yang berada di dalamnya.
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang mitos ini, penting untuk memahami lebih lanjut tentang salah satu tempat wisata lain yang menakjubkan ini.
Telaga Sarangan merupakan tempat wisata yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di bawahnya, terdapat destinasi wisata lain, yaitu Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu, yang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Terletak di lereng Gunung Lawu, suhu udara di sekitar telaga ini sangat sejuk, berkisar antara 15-20 derajat celcius.
Di sini, wisatawann dapat menikmati berbagai aktivitas mulai dari naik speed boat hingga menunggang kuda.
Selain itu, pengunjung juga dapat mencoba kuliner populer di area ini, seperti sate kelinci dan pecel.
Mitos di Balik Keindahan Telaga Sarangan
Dua Naga Besar Penghuni Telaga
Telaga Sarangan menyimpan misteri asal usul terbentuknya yang terkait dengan cerita rakyat tentang Kyai dan Nyai Pasir.
Pasangan ini tidak memiliki anak selama bertahun-tahun dan memohon kepada Sang Hyang Widhi untuk diberi keturunan.
Setelah diberkahi dengan seorang anak laki-laki bernama Joko Lelung, mereka mengandalkan pertanian dan berburu untuk hidup.
Dalam sebuah semedi, mereka diberitahu untuk memakan telur di ladang agar doa mereka dikabulkan. Setelah memakan telur tersebut, mereka berubah menjadi dua ekor naga raksasa.
Mereka berputar-putar di pasir hingga membentuk cekungan dalam yang kemudian terisi air.
Kyai dan Nyai Pasir bermaksud menggunakan cekungan tersebut untuk menenggelamkan Gunung Lawu, tetapi Joko Lelung menghentikan mereka dengan doanya.
Akhirnya, atas permintaan Joko Lelung, Sang Hyang Widhi menghentikan upaya jahat Kyai dan Nyai Pasir, sehingga mereka berhenti membuat cekungan.
Editor : Meitika Candra Lantiva