RADAR PURWOREJO - Para siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Purworejo mendapatkan sosialisasi terkait gerakan nasional budaya sensor Mandiri oleh Lembaga Sensor Film (LSF) pada Selasa (7/5). Para siswa didorong untuk menonton film sesuai usianya.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di SMA N 1 Purworejo dengan peserta unsur guru, kepala sekolah dan perwakilan siswa dari sekolah-sekolah di Kabupaten Purworejo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, Dewan Kesenian Purworejo, dan sebagainya.
Ketua Sub Komisi Penelitian dan Pengkajian, LSF, Kuat Prihatin menyampaikan, kegiatan sosialisasi tersebut berkaitan dengan salah satu kewajiban LSF untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar cerdas dalam memilih tontonan. "Kami menginginkan, budaya sensor mandiri (BSM) menjadi gerakan nasional," katanya Selasa (7/5).
Selain sosialisasi di sekolah, pihaknya juga membentuk desa sensor mandiri yang saat ini sudah terbentuk di tujuh desa. Kuat mengatakan, dengan hanya datang ke sekolah-sekolah menurutnya dapat membutuhkan waktu yang lama. Sehingga, saat pihaknya ingin mensosialisasikan BSM melalui kurikulum. "Kami sedang intens diskusi dengan pusat kurikulum agar konten-konten BSM untuk bisa masuk," sebut dia.
Terpisah, Bupati Purworejo Yuli Hastuti sangat berterima kasih kepada LSF karena telah mengadakan kegiatan tersebut. Dia berharap dengan adanya kegiatan itu, masyarakat khususnya para siswa dapat mengetahui pentingnya penguatan fungsi literasi terhadap film.
Dengan begitu, masyarakat memiliki kepedulian dan kesadaran untuk menonton film atau memberikan tontonan kepada generasi muda sesuai dengan klasifikasi usia. "Sehingga masyarakat khususnya anak-anak memiliki potensi mengakses konten perfilman yang tidak sesuai dengan klasifikasi usianya," sambungnya.
Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan pendidikan dan pengetahuan terhadap film melalui penguatan fungsi literasi. "Jangan sampai anak-anak di bawah umur mendapat kebebasan untuk menonton film yang tidak sesuai dengan usianya," tegasnya.
Terlebih, film-film yang mengandung unsur kekerasan, seks, maupun konten negatif lainnya. Karena, dapat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan dan pola pikirnya. (han/pra)