Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Jembatan Gantung Dibongkar, Warga Gunakan Gethek Bambu

Din Miftahudin • Kamis, 6 Juni 2024 | 14:00 WIB
BANTU PENYEBERANGAN: Warga Bandongan menginisiasi pembuatan gethek bambu untuk menyeberangi Sungai Progo.
BANTU PENYEBERANGAN: Warga Bandongan menginisiasi pembuatan gethek bambu untuk menyeberangi Sungai Progo.

 

 

RADAR PURWOREJO - Jembatan gantung penghubung antara Ngembik Lor, Kota Magelang dengan Bandongan, Kabupaten Magelang di atas Sungai Progo telah dibongkar. Untuk memudahkan mobilitas, warga menginisiasi pembuatan gethek bambu sebagai perantara untuk menyeberangi Sungai Progo itu.


Gethek itu dimodifikasi sedemikian rupa agar mampu membawa puluhan warga dari kota menuju Kabupaten Magelang. Begitupun sebaliknya. Gethek itu terbuat dari anyaman bambu. Di bawahnya ada puluhan galon bekas agar mengapung di sungai. Ada dua bangku memanjang yang disediakan untuk warga agar bisa duduk. Selain itu, juga terdapat empat tiang bambu sebagai penopang atap yang memanfaatkan banner bekas. Supaya penumpang gethek tidak kepanasan.


Cara kerjanya, ada tali berupa kabel bekas dan bambu yang membentang sekitar 50 meter. Tujuannya sebagai pegangan agar gethek itu bisa beroperasi. Begitu ada penumpang, dua warga yang bertindak sebagai 'sopir' mulai menarik tali.

Ketika sampai di tujuan, warga akan memberikan upah seikhlasnya pada kotak yang tersedia. Mulai dari Rp 1 ribu, Rp 2 ribu, hingga Rp 3 ribu. Selain bisa membantu warga untuk menyeberang, warga sebagai inisiator pembuatan gethek itu bisa mengais rezeki.


Warga Dusun Candi, Sidorejo, Bandongan Fathoni, 56 mengutarakan, pembuatan gethek bambu ini dia inisiasi dan tiga teman lain. Pembuatan sarana untuk penyeberangan warga ini menjadi pengalaman kedua baginya. Pada 2011 lalu, ketika jembatan gantung Ngembik putus, dia juga membuat hal serupa dengan memanfaatkan ban.


Dia mengaku prihatin dengan warga yang biasanya memanfaatkan jembatan gantung untuk menyeberang dari kota ke Kabupaten Magelang atau sebaliknya. Lebih-lebih, banyak warga dari Bandongan yang bekerja di Kota Magelang.

Ketika jembatan dibongkar, praktis mereka akan memilih rute yang lebih jauh. "Itu kan jadi repot kalau mereka harus mutar jauh. Makanya saya punya ide buat itu (gethek bambu). Terus saya bilang sama teman-teman kalau saya buat rakit penyeberangan gimana, ikut nggak," sebutnya, Rabu (5/6).


Gethek tersebut memanfaatkan sejumlah bambu dan lebih dari 100 galon bekas. Lantas, mulai beroperasi sejak Jumat (31/5) lalu. Mulai pukul 05.30 hingga 18.00. Setiap hari ada dua orang yang menjalankan gethek tersebut. Sementara dua lainnya akan bergantian di hari selanjutnya. Sistemnya, satu hari bekerja, satu hari libur.

Gethek itu mampu membawa hingga 20-an penumpang. Tapi, dia biasanya hanya membawa beberapa penumpang saja. Terbanyak ada 17 orang. Itu berarti banyak warga yang terbantu dengan adanya gethek tersebut. Apalagi saat hari libur.


Fathoni menambahkan, tidak mematok tarif untuk jasa penyeberangan tersebut. Warga secara sukarela akan mengisi kotak yang telah disediakan. Dalam sehari, mereka dapat menghasilkan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu. Harapannya, dapat membantu dan meringankan beban para pekerja serta anak-anak sekolah yang hendak menyeberang.


Bahkan, kehadiran gethek itu menjadi satu hal yang menarik dan dijadikan destinasi wisata. Tak jarang, banyak warga yang sengaja datang untuk mencoba sensasi menyeberangi Sungai Progo dengan gethek bambu saat hari libur.

Warga Rejosari, Bandongan Rondiyah, 65 mengaku terbantu dengan adanya gethek bambu tersebut. "Sudah ada sejak Jumat. Ini (gethek) menolong kami yang bekerja di Ngembik Lor, Kota Magelang," akunya. (aya/din)

Editor : Satria Pradika
#Gethek Bambu #Jembatan Gantung #Magelang #Sungai Progo