Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Manfaatkan Panel Surya untuk Sistem Irigasi sejak 2022, Desa Krandegan Bisa Hemat Biaya sampai 50 Persen

Jihan Aron Vahera • Rabu, 3 Juli 2024 | 16:00 WIB
Panel surya di Desa Krandegan untuk jalankan sistem pengairan sawah di desanya.Pemdes Krandegan untuk Radar Jogja
Panel surya di Desa Krandegan untuk jalankan sistem pengairan sawah di desanya.Pemdes Krandegan untuk Radar Jogja

 

RADAR PURWOREJO - Pemerintah Desa (Pemdes) Krandegan, Bayan, Purworejo manfaatkan panel surya untuk sistem irigasi sawah di wilayahnya. Pemanfaatan tersebut sudah dilakukan sejak 2022 lalu dan pemdes bisa menghemat biaya sebanyak 50 persen.


Kepala Desa Krandegan Dwinanto menyebut, sejak 2013 pengairan sawah di desanya menggunakan mesin diesel berbahan solar untuk mengambil air dari Sungai Dulang. Sehari semalam mereka menghabiskan biaya Rp 400 ribu. “Setelah adanya panel surya hanya Rp 200 ribu karena menggunakan diesel saat malam saja," ungkapnya Selasa (2/7).


Untuk menutup biaya pembelian solar, Pemdes Krandegan menggandeng pihak ketiga. Sehingga, para petani di desa tersebut bisa mendapatkan pengairan sawah tanpa dipungut biaya atau gratis. Kemudian, di 2022 tercetus ide pemanfaatan tenaga surya atau matahari untuk menjalankan sistem irigasi agar lebih menghemat biaya. "Gagasan kami mendapatkan dukungan dan bantuan dari Pemprov) Jawa Tengah. Pada 2022 kami diberi dana Rp 400 juta lebih untuk membangun PLTS," sebutnya.


Dana tersebut digunakan untuk membeli sebanyak 57 solar cell. Kemudian, dipasang di lahan terbuka di atas tanah bengkok milik desa. Panel surya tersebut memiliki daya 19 ribu watt dan mampu menghasilkan debit air sebanyak 77 liter per detik atau 270 kubik per jam untuk mengairi sekitar 50 hektare sawah yang ada di Desa Krandegan. "Ketika panen, petani cukup membayar zakat ke desa kemudian dikelola oleh kami pemdes untuk penanganan kemiskinan di desa kami," imbuhnya.


Dijelaskan, tipe sawah di desa tersebut adalah tadah hujan. Sehingga, inovasi pompa air diesel dan panel surya tersebut untuk menyediakan stok air bagi petani pada musim kemarau agar tetap bisa tanam dan tidak kekurangan air. "Akhirnya, setelah adanya inovasi tersebut sebagian besar petani di desanya bisa panen sebanyak tiga kali dalam setahun," ungkap Dwi.


Dwinanto mengatakan, irigasi teknologi surya tersebut diperkirakan mampu bertahan sekitar 20 tahun. Namun, harus rutin dilakukan pemeliharaan yaitu dengan rajin membersihkan kotoran dan debu setiap dua minggu sekali. "Tergantung, tingkat kekotorannya," tambah dia.


Dikatakan, dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) itu selain dapat menghemat biaya juga ramah lingkungan. "Kami berharap, dengan panel surya tersebut masyarakat dapat semakin terbantu dan sejahtera," harapnya.


Salah satu pertani di desa tersebut Nurfuad menyebut, para petani di desanya sangat terbantu dengan sistem pengairan tersebut. Apalagi mereka mendapatkan air tanpa harus mengeluarkan biaya.


"Tentu kami sangat senang dan merasa terbantu sekali. Saya bisa panen tiga kali dalam setahun. Di sisi lain, pemdes bisa lebih hemat karena pengeluaran bisa ditekan setelah adanya panel surya," sebut dia. (han/din)

Editor : Satria Pradika
#irigasi #panel surya #PEMDES