RADAR PURWOREJO - Penggunaan benih padi hibrida mulai menyebar di Kecamatan Ngombol, Purworejo. Penggunaan benih tersebut dirasa lebih menguntungkan petani karena menghasilkan produktivitas padi yang lebih banyak.
Dari hasil ubinan padi hibrida di Kecamatan Ngombol, produktivitas padi mencapai 11,08 ton per hektare. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngombol Siti Lestari menyampaikan, dalam rangka menghitung perkiraan produktivitas padi, di awal Agustus 2024 telah dilaksanakan kegiatan ubinan padi hibrida jenis Mapan 05 di Kelompok Tani Sri Dadi, Desa Briyan, Kecamatan Ngombol.
Diketahui, ubinan merupakan salah satu cara memprediksi hasil panen tanaman padi yang masih ada di lahan. Yakni, melalui penentuan sampel pengukuran dan penimbangan. Hasil tersebut, dapat dijadikan dasar dalam penentuan produksi per hektar lahan. Secara garis besar langkah dalam pengambilan ubinan yaitu menentukan petak lahan yang akan dilakukan ubinan.
Kemudian, mengambil titik berbentuk petak atau bujur sangkar per hektare lahan tanaman, memberikan tanda pada hasil pengukuran, menghitung jumlah rumpun atau batang di dalam hasil pengukuran, mengambil sampel ubinan dengan alat pemotong, menimbang hasil ubinan, hingga menduga produktivitas hasil ubinan.
"Adapun hasil ubinan padi dengan varietas Mapan 05 dengan ukuran sampel 2,5 m x 2,5 m menghasilkan berat sampel 6,925 kilogram (dikalikan 1600), sehingga konversi perkiraan produktivitas setara 11,08 ton per hektare" katanya Selasa (6/8).
Dari itu, Koordinator PPL Kecamatan Ngombol Woro menyebut, varietas unggul sangat menentukan tingkat produktivitas hasil panen yang diharapkan oleh petani. Varietas Mapan 05 itu, layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu varietas padi hibrida yang dapat ditanam khususnya di Desa Briyan.
Dia berharap, penggunaan benih padi hibrida yang mulai menyebar di Kecamatan Ngombol dapat memacu peningkatan produksi padi di wilayah Kecamatan Ngombol. "Hal ini dapat menjadi contoh untuk mendorong petani meningkatkan produktivitas mereka,” harap dia.
Salah satu petani di Desa Briyan yaitu Sutoyo mengaku sangat diuntungkan dengan varietas tersebut. Dengan lahan seluas 2.100 meter miliknya hanya dibutuhkan 1,5 kg benih, padahal biasanya dibutuhkan sekitar 8 kg. Dia bisa menghemat karena pada saat tanam hanya menggunakan satu batang bibit padi per titik dengan sistem tanam tegel dengan ukuran 25 cm x 25 cm.
"Pemupukan menggunakan pupuk organik Jawa Green sebanyak 200 kg dan urea sebanyak 25 Kg. Kemudian, untuk pemupukan susulan menggunakan pupuk NPK sebanyak 25 kg dan urea sebanyak 25 kg," katanya. (han)
Editor : Satria Pradika