RADAR PURWOREJO - Merti desa di Desa Trirejo, Loano, Purworejo digelar meriah pada Kamis (8/8). Ratusan warga mengarak tujuh gunungan dan 15 tumpeng sejauh satu kilometer lebih untuk selanjutnya diperebutkan oleh warga.
Ribuan warga sangat antusias menyaksikan dan berebut gunungan hasil bumi usai diarak. Adapun gunungan hasil bumi itu berisi aneka sayuran, buah-buahan, ketela, singkong, dan sebagainya.
Salah satu penonton merti desa yakni Cahyo Suguh, 21, warga Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Dia mengaku, meski bukan warga setempat, dia sengaja berkunjung ke Desa Trirejo untuk menyaksikan arak-arakan. "Tadi ikut rebutan gunungan, siapa tahu mendapatkan berkah. Katanya rebutan gunungan itu untuk ngalap berkah," ujarnya Kamis (8/8).
Kades Trirejo Andhi Prasetiawan menjelaskan, merti desa tersebut baru pertama kali digelar sejak 1913 lalu. Yakni, sejak berdirinya Desa Trirejo. "Merti desa ini sebenarnya ada rangkaiannya. Kami awali 6 Agustus lalu dengan acara unduh tirto dan jungjung pertiwi yaitu mengambil air dari sumber mata air di tiga titik," jelasnya.
Selanjutnya, pada Kamis (8/8) diadakan arak-arakan yaitu setiap RW membuat gunungan dan sebanyak 15 RT di Desa Trirejo membuat tumpeng. "Rencananya setelah acara ini akan kami evaluasi dan akan kami musdes-kan (musyawarah desa) masyarakat menginginkan kegiatan ini rutin atau tidak. Jika rutin rencananya akan diselenggarakan setiap 1 Safar," sambungnya.
Dia berharap, kegiatan ini akan memupuk dan menumbuhkan rasa goling gilig atau rasa persatuan di tengah warga. "Seperti tema merti desa ini yaitu nyawiji roso. Harapannya masyarakat bersatu padu untuk satu tujuan membangun desa agar Desa Trirejo menjadi lebih maju," harap dia.
Sementara, Bupati Purworejo Yuli Hastuti sangat mendukung dan mengapresiasi seluruh warga Desa Trirejo karena setia memelihara tradisi yang adiluhung itu. Dia menyakini, jika nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan merti desa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Purworejo akan semakin damai dan kondusif. Utamanya, dalam melaksanakan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan.
Dia mengatakan, kegiatan merti desa merupakan wujud manifestasi rasa syukur kepada Yang Maha Esa. Selain itu, menjadi wadah bagi masyarakat untuk menjalin silaturahmi, saling menghormati, serta saling tepa selira. "Kegiatan seperti ini merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam," ungkapnya.
Tak lupa, dia juga mengajak mengajak masyarakat Desa Trirejo untuk bersama-sama menangkap peluang, berkreasi, berinovasi, menggali, dan mengembangkan potensi yang ada di desa. "Harapannya, potensi-potensi yang dimiliki benar-benar dapat dieksplorasi secara optimal karena adanya dukungan dari semua lapisan masyarakat yang terlibat di dalamnya," harap Yuli. (han)