Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Dwi Setiyo Rahadi Sukses Jadi Petani Pepaya California, Seorang Petambak Yang Merugi, Beralih ke Budidaya Pepaya

Jihan Aron Vahera • Selasa, 27 Agustus 2024 | 17:00 WIB

 

Dwi Setiyo Rahadi saat memanen pepaya California di lahan miliknya di daerah Desa Harjobinangun, Grabag, Purworejo
Dwi Setiyo Rahadi saat memanen pepaya California di lahan miliknya di daerah Desa Harjobinangun, Grabag, Purworejo

RADAR PURWOREJO - Dwi Setiyo Rahadi, 43, awalnya adalah seorang petambak udang. Namun, kini dia beralih menjadi seorang pembudidaya Pepaya California di lahan miliknya. Per minggu bisa panen hingga satu ton pepaya dengan omzet jutaan rupiah.


Dwi Setiyo merupakan warga Dusun Awu-Awu,Desa Harjobinangun, Grabag, Purworejo. Setiap harinya, dia sibuk menjadi seorang petani pepaya di desanya. Dia memanfaatkan lahan miliknya yang berada di pesisir pantai untuk dijadikan sebagai tempat budidaya pepaya jenis California.


Kebiasaan tersebut sudah dia lakoni sejak 2017 lalu. Berkat ketekunan dan kegigihannya, saat ini, Dwi telah menanam sekitar 2.500 batang pohon pepaya California di atas lahan seluas dua hektare. Dari 2.500 pohon tersebut setidaknya ada empat ratusan batang pohon pepaya yang bisa dia panen.

"Saya dulu seorang petambak tapi akhirnya merugi. Kemudian, saya beralih ke pepaya atau pertanian karena saya tahu purworejo punya tren pepaya California," ujarnya Senin (26/8).

Selain itu, harga pepaya dinilai lebih stabil dibandingkan buah lain, naik turunnya tidak begitu signifikan. "Bahkan, di waktu tertentu harga bisa semakin melonjak. Seperti saat puasa bisa mencapai Rp 5 ribu per kilogram (kg). Kalau biasa Rp 3 ribu per kg," imbuhnya.

Setelah belajar dari berbagai sumber termasuk media sosial, dia berhasil mengubah lahan pesisir sebagai lahan yang ideal untuk menanam pepaya. Bukan perkara yang gampang, mengingat lahan pesisir merupakan lahan berpasir. Sehingga, butuh upaya agar air tidak cepat hilang.

Dikatakan, untuk menjaga air tetap terjaga, Dwi memanfaatkan sabut kelapa dan daun bambu agar air tetap tersimpan. Penggunaan sabut kelapa dan daun bambu tersebut terbukti mampu meningkatkan kualitas buah pepaya.

"Kalau pepaya yang sudah berusia tujuh bulan hingga delapan bulan bisa dipanen seminggu sekali. Setiap kali panen bisa mengumpulkan 500 kg hingga satu ton pepaya," sambungnya.

Untuk menjalankan usahanya, dia dibantu oleh belasan pekerja yang merupakan tetangganya untuk merawat pohon-pohon pepaya miliknya. Terkait penjualan, dia biasa menjual ke tengkulak untuk dikirim ke Jakarta dan sejumlah daerah lainnya. "Saat ini saya sendiri masih kualahan untuk memenuhi permintaan pasar yang makin meningkat tiap waktu," sebut dia.

Diketahui, pepaya California termasuk jenis unggul. Pohonnya lebih pendek dibanding jenis papaya lain. Pohon pepaya jenis ini dapat berbuah hingga umur mencapai empat tahun. Buahnya biasa berbentuk lonjong dengan ujung meruncing. Warna kulit buah ketika muda hijau gelap, dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Rasanya sangat manis dan enak.

Dwi mengatakan, untuk mempromosikan usahanya, dia memanfaatkan media sosial Tiktok dengan nama Hore Farm. Media sosial tersebut digunakan sebagai media sharing dan edukasi terkait budidaya pepaya California. Penontonnya sangat banyak, bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu viewers. "Saya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, bisa datang ke tempat saya," kata dia. (han)

Editor : Satria Pradika
#Pepaya California #Mengenal #Budidaya Pepaya #petambak